Genk Barbie Sampai Pemburu Buah di Ladang

Kayaknya istilah genk-genk-an itu uda ketanem sejak kecil ya, Mak. Kalau dalam bahasa sehari-hari (di kampung halamanku, Prembun) biasanya diistilahkan dengan sebutan bolo-boloan. “Heh, kamu boloan sama aku yaaa,” ujar kepala genk yang biasanya diperankan oleh anak paling populer di lingkungan bermain. Karena males dikucilkan, ya akhirnya aku ikutan. Jadi tim hore-hore. Satu hari bisa boloan sama Genk X. Satu hari yang lain bisa boloan dengan Genk Y. Genk X ini sebagian besar permainannya lebih ke aktivitas cewek-cewek kayak boneka-bonekaan, rumah-rumahan, ataupun masak-masakan. Sementara Genk Y lebih ke permainan alam seperti gosong-gosongan di sawah, manjat dari satu pohon ke pohon lainnya (udah kayak munyuk lah istilahnya), sampai main ke sungai.

mama-calvin-&-bunda-salfa-giveaway

Satu-satu dulu ya. Genk X ini terdiri dari cewek-cewek SD yang satu kelas denganku. Ada Dita, Anis, dan juga Yanti. Kami rutin bergiliran markas untuk bermain boneka. Biasanya kami janjian dulu mau ketemuan dimana. Paling sering sih di rumahku. Sebab jarak antara rumahku dengan sekolah adalah yang paling dekat (waktu itu memang sekolah yang kami jadikan patokan untuk kumpul). Nanti kira-kira jam sekian, si Dita udah manggil-manggil dari balik pager : “Nita !!! Nitaaa !!! Main yukk !!” Begitu kata dia. Habis itu biasanya disusul kemudian oleh Yanti dan juga Anis. Meskipun rumah mereka berjauhan, tapi tetap saja mereka jalan menggunakan sepeda untuk mencapai rumahku. Seneeeeeeeng dong…. mengingat aku termasuk anak yang susah gaul dan punya sahabat. Jadi kalau ada yang main ke rumah tuh rasanya kayak ada bolonya, hahaha #norak.

Misalnya ada yang ingkar janji nih, biasanya salah satu dari kami langsung ada yang nesu (marah) #rada lebay memang. Jadi tuh di umur-umur segitu, lingkaran pertemanan kami sering dibumbui dengan nesu-nesuan. Yang paling sering cancel sih si Anis. Alasannya doi juga ada temen genk lain yang musti diutamakan jadwalnya. Hellaaaw, padahal kan dia sudah janjian dulu sama kami. Atau kalau bukan karena itu, ya beralasan mau bantuin ibunya jualan rujak. Apa boleh buat, kami harus memaklumi. Toh permainan masih tetep bisa jalan meski hanya bertiga atau bahkan berdua saja dengan Dita (ceritanya cuma Dita yang paling sering menepati janji).

Masing-masing dari kami biasanya membawa boneka lebih dari satu. Kebanyakan sih dalam bentuk barbie. Yang lain, paling berupa boneka cewek yang bisa kedip-kedip matanya, tapi dengan badan yang tidak seramping barbie. Boneka ini kuberi nama Nenez, mengingat tampangnya yang kenes dan ga ngebosenin saat dirias ataupun dipakaikan dengan baju-baju dari potongan perca.

Untuk barbie, aku sendiri dapat lungsuran dari saudara. Totalnya ada 2, kuberi nama Gagat (Agatha) dan Reni. Yang satu kubiarkan rambutnya tetap terutai panjang, yang satu lagi nekad kupangkas sampai sebahu. Hiks…agak menyesal sih, sebab Reni yang cantik itu, kini terlihat tomboy dan macho. Rambutnya kaku dan susah dimodel-modelin :’(. Sementara itu, Dita membawa boneka barbie versi lain (dengan rambut warna cokelat tua), berikut dengan rumah-rumahannya–yang mana pada masa itu tergolong sangat mewah dan ibu belum sanggup membelikannya untukku.

Di sela-sela mendandani barbie, ada kalanya Dita bercerita tentang hal-hal mistis. Iya, Dita ini pintar sekali memainkan kata-kata, sehingga membuat kami yang mendengarnya seolah yakin bahwa hantu yang diceritakannya itu ada. Apalagi saat dia bercerita bahwa di sekitar rumahnya ada pohon kelapa bercabang, yang kalau malam biasanya terdengar suara cumplung (kelapa kosong) jatuh. Nah, kalau sudah denger suara kayak gini nih, maka kata Dita, jangan sampai kita mendekatinya. Karena apa? Bisa jadi yang jatuh itu gundul pringis atau hantu bekepala gundul dengan senyum meringis. Hiiii….

Anis juga bisa dikatakan sebelas dua belas lah dengan si Dita. Doi yang notabene pindahan dari SD lain, terkadang membubuhkan bumbu-bumbu horor setiap kali kami sedang bermain. Misalnya tentang keangkeran bekas SD-nya. Kan gedung sekolahnya berupa peninggalan zaman Belanda tuh. Otomatis hawa-hawa keangkerannya masih terasa kuat. Bahkan di salah satu ruang kelasnya, doi pernah ngeliat sepatu yang katanya jalan sendiri dari balik lemari. Hiiii….ngeri amat ya. #kenapa malah jadi gosip ni genk cewek-cewek? Hahhahah… Ya, sepertinya memang perempuan ditakdirkan untuk itu.

Lain halnya dengan Genk X, Genk Y cenderung lebih banyak anggotanya karena bercampur dengan anak-anak cowok. Kalaupun ada ceweknya, pasti kebanyakan punya sifat petualang dan hobi panas-panasan. Mereka berasal dari RW sebelah yang letaknya cukup jauh dari rumahku.

Selain temen sekelas, genk Y ini juga terdiri dari adik kelas SD, 1 tingkat di bawahku. Mereka adalah Epi, Elis, Indri, Dwi, Tri, Ayu, Gugun, Ageng, Yono, Ningsih, Encus, Yanuar, Jimi, Aji, Fitri, dan juga kakak perempuanku, Puput. Biasanya kami membuat agenda–hari ini mau kemana, lalu besokannya mau kemana lagi, yang semuanya itu harus kami tempuh dengan menggunakan sepeda.

Yang paling asyik tentu saja memanfaatkan hasil kebun atau sawah salah satu anggota. Misalnya punya Epi. Karena kebunnya berada tepat di belakang rumahku, maka ketika pohon jambunya sedang berbuah, ya yang paling ngeh aku duluan sama Mbak Puput. Terus ladang bengkoang dan singkongnya yang ada di samping rumah, itu juga jadi incaranku untuk memanggil mereka supaya lekas memanen *licik sekali. Biasanya kalau dapet singkong yang gede-gede tuh, kumpulan anak cowok langsung berinisiatif untuk membuat perapian sebagai media untuk membakar singkong. Jadilah kami pesta singkong langsung di area ladang.

Lain hari, Indri yang punya sawah di dekat Dines Pertanian juga mengumumkan bahwa pohon pepayanya sudah masak bergelantungan. Otomatis tanpa menunggu lama, kami langsung datang untuk menggasak. Bayangin aja, kami berburu waktu dengan kelelawar supaya kebagian yang sudah menguning. Jadi sekali petik, kami langsung mengembatnya di tempat, tepatnya di atas saung, bertemankan semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi membelai wajah kami. Kalaupun sedang khilaf, ada kalanya kami menyelinap sampai ke Dinas Pertanian untuk mengintai buah-buahan apa saja yang sedang berbuah, hahaha… Kalau beruntung, kami tidak perlu ngumpet-ngumpet, karena biasanya ada petugas yang berbaik hati membagikan buah-buahan tersebut ketimbang jatuh sia-sia ke atas tanah. #Alhamdulilah.

Hal seru lainnya adalah pas kedapatan panen semangka di sawahnya Dwi. Wah, ga perlu nunggu waktu lama buat memalaknya mendatanginya. Meski panas-panasan di bawah terik mentari, toh nyatanya kami tetap semangat, apalagi saat tangan kanan dan kiri kami mengangkut 2 butir semangka untuk dibawa pulang. Kata ibu Dwi, sayang kalau ga kemakan. Yawes, demi menyenangkan yang ngasih kami pun tak sungkan-sungkan lagi untuk membawanya, selain tentu saja ada pula yang dibelah di tempat.

Saat bosan di sawah, kami mengalihkan permainan dengan cara mengekspolrasi sungai. Apalagi kalau sedang musim udang. Wah di pinggiran irigasi pasti bakal berderet udang-udang kecil yang biasa kami sebut urang— dan seakan ‘memanggil’ untuk segera diseser. Biasanya anak cowok nih yang langsung inisiatif pinjem seser di rumah anggota genk yang paling deket dengan sungai. Setelah dapet seser, ngambilnya pun kudu hati-hati kalau mau kejaring banyak. Ya tentu saja dibarengi dengan kewaspadaan tingkat tinggi karena arus yang kami lalui lumayan deras…belum lagi kalau ketemu pisang goreng kuning yang mengambang, hiiiii jangan sampai deh….(tau sendiri kan itu artinya apa?). Kalau sudah dapet banyak, biasanya udang-udang ini kami bagi-bagi untuk dijadikan lauk di rumah masing-masing. Yah pada intinya, permainan masa kecil ini sarat akan makna. Entah itu dari sisi filosofi pertemanannya ataupun hikmah dan manfaat yang kami dapat di dalamnya. Ah, untunglah masa kecilku dihiasi dengan keping-keping kenangan yang maha indah ini. Lumayan kan bisa nambah cerita untuk anak-anak kami nanti? J

“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa” 

Advertisements

14 thoughts on “Genk Barbie Sampai Pemburu Buah di Ladang”

  1. Kalau saya yang diceritain hantu-hantu gitu pasti langsung kabur mbak Nit, saya tuh penakut banget dulunya, sekarang juga masih sih 🙂

    Kayaknya lebih asyikan main sam geng Y ya mbak, lebih menantang gitu 🙂

    Like

  2. Baru tau kalo gank itu sebutannya “Boloan”.
    Dan gue ngakak pas tau singkatan gundul pringis. Jadi inget dulu ada temen yang juga suka cerita-cerita horor begitu, meskipun itu ngibul, bodohnya gue tetep percaya karena kata-katanya emang meyakinkan dan berani sumpah palsu. Ya, namanya juga bocah SD. XD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s