Pengalamanku Mengunjungi Tempat-Tempat Wisata di Padang dan Bukittinggi

Kali terakhir menjejakkan kaki ke Tanah Sumatera adalah saat aku mendapati tugas liputan dari media di mana aku bekerja dulu. Kebetulan momennya pas banget sama event salah satu bank plat merah di Indonesia yang mengharuskanku mendapatkan secuil opini tentang kebijakan strategis korporasi mereka pada masa itu. Jadi karena bank tersebut sedang ultah–dengan agenda mau mengadakan media gathering (kurleb acaranya jalan-jalan gitu lah), sementara pemimpin redaksi tempatku bekerja minta ada kutipan kalimat dari Pak Dirut bank yang dimaksud, yaudah akhirnya aku lah yang dikorbankan untuk berangkat. Tadinya sih mau dilimpahkeun ke senior aku, cuma sayangnya beliau ga bisa. Meskipun berat, karena terus terang aku malas jika diembel-embeli tugas luar kota tapi ujung-ujungnya harus mikir nulis laporan (haha..), pun karena masa-masa itu sedang ‘hawt-hawtnya’ penganten baru (ceritanya baru nikah 4 bulanan), e balik dari cuti udah dikasih tugas ama si boss wakakka….Yaudahlahya terpaksa Hayati jalani.

1487570347250

Baca versi lain ceritaku tentang Padang di sini

Jadi terhitung tanggal 12 Desember 2014, aku dilepas bersama temen-temen media, baik cetak, tv, maupun online untuk bareng-bareng evaluasi laporan tahunan si bank yang dimaksud, sampe bela-belain terbang ke Padang dunk #eh. Kami kumpul pagi-pagi bener di bandara, lalu terbang sebelum dzuhur. Pesawat kami kemudian mendarat di Bandara Internasional Minangkabau dengan disambut oleh cuaca panas. Terik mentari pukul 12 siang rupanya melengkapi rasa letihku dan rombongan setelah perjalanan udara kurang lebih 1 jam 30 menit. Kami akhirnya dijemput 4 buah bis dengan tujuan Grand Rocky Hotel yang ada di Bukittinggi. Jadi dari Padang Panjang menuju ke sana harus memakan waktu 4 jam, karena terus terang aku juga baru tau bahwa yang namanya Padang Panjang-serius rutenya panjang betul sesuai dengan namanya. Sebenernya sempet mampir makan siang di salah satu restoran Padang (makan Padang di Padangnya langsung), namun sayang menu-menunya ga sempet kuabadikan karena tahun 2014 aku belom jadi seorang blogger yang memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk kenang-kenangan pribadi #ah menyesyaaaaalll…Tapi rasa bete kemudian berganti sudah–meski dengan ritme yang pelan ketika sudah disuguhi pemandangan Padang yang maha indah. Ditambah lagi, masing-masing bis diramaikan oleh pemandu wisata yang cerita Padang dari A-Z dengan cengkok yang khas dan kadang disertai bumbu lawak sehingga membuat mata kami gagal terpejam karena kantuk. Lebih-lebih dari jendela menghampar view berhektar-hektar tanaman cokelat dan kopi yang memang menjadi andalan khas kota ini, juga kehidupan masyarakat yang terlihat rukun penuh semangat kekeluargaan.

1487568940042

1487568896236

 

Danau Maninjau

Bis kami bergerak semakin menanjak. Mau kemanakah kami? Ternyata singgah dulu di Danau Maninjau sebelum benar-benar mengistirahatkan badan di hotel. Padahal aslinya hari sudah hampir larut, namun karena sudah jauh-jauh sampai ke sini, maka rasanya belum sah jika kami ga menyempatkan waktu melihat salah satu pesona Indonesia yang satu ini, betul ga ? Walhasil, meski dengn menerjang badai dan menyiris hutan hujan tropis Pulau Sumatera yang cukup lebat, bis kami tetap tak gentar menuju ke sana.

1487569916568

Beberapa menit sebelum bedug magrib, akhirnya kami sampai juga di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dimana Danau Maninjau berada. Kalo orang sana bilang sih danau ini dinamai Puncak Lawang dan Kelok Ampek-Ampek (44), yang mana sesuai dengan rutenya yang berkelok-kelok dan kurang bersahabat dengan jenis manusia mabokan kayak aku hahhahaha…(iya jadi di bis aku ud menahan muntah gitu). Cuman ya alhamdulilahnya, semua itu terbayar setelah kami turun dan melihat keindahan yang ada.

Danau yang konon merupakan danau terbesar kedua di Sumatra Barar ini benar-benar memberikan pemandangan yang susah dilukiskan dengan kata-kata. Meskipun pada saat itu suasana mendung cukup tebal, tetapi rasa-rasanya malah semakin menjadikan efek yang lumayan dramatis karena antara air dan langit seakan menyatu dlam satu biru. Yah meski pada akhirnya tetep ujan rintik-rintik juga sehingga membuat kami yang tadinya asyik berpose mengabadikan diri, bubar satu-satu dan berkumpul ke pondokan demi berlindung dari tetes hujan. Lumayan, ngangetin badan pake ubi rebus, kacang, sama kolak labu yang dimasak langsung dari tangan penduduk sekitar. Sayang lagi-lagi ga sempet kupotret gra-gara hapeku ngedrop hahahhaha…amsyong deh.

Rumah Budaya Fadli Zon (Bersebelahan dengan Rumah Puisi)

Setelah menggigil di suhu udara Puncak Lawang, malamnya (lagi-lagi sebelum masuk ke Koto Bukittingginya), kami dibawa sejenak untuk menyambangi Rumah Budaya yang berada di Nagari Aia Angek Jl Raya Padangpanjang-Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar. Letaknya bersisihan dengan Rumah Puisi yang sayangnya malam itu sudah tutup. Akhirnya kami cuma bisa menengok sebentar ke Rumah Budayanya sekalian sambil makan malam (sate padang) dan acara suka-suka kayak pelepasan lampion harapan.

1487568269976

1487568390216

1487568428619
Masukkan keterangan

Ohya, di sini aku jadi tahu juga loh ternyata tari piring itu ada adegan seperti budaya debusnya, yakni bagian piring yang dipecah, lalu si penari wanita menari di atasnya dengan bertelanjang kaki. Prank, prankkk prank !!! Bunyinya ramai betul. Ajaibnya sih ga sampai luka. Mungkin sudah ada syarat-syaratnya kali ya, cuma ya tatep aja aku yang ngeri hahahha..

Selain disambut dengan tari-tarian Selamat Datang, di sini aku juga bisa melihat koleksi benda-benda berunsur budaya mulai dari wayang, pakaian adat minang beserta suntiang khas yang digunakan pengantin perempuan, keris, lukisan, buku-buku sejarah minang, termasuk fosil kerbau berusia dua juta tahun dan fosil-fosil kayu yang telah menjadi batu. Ada pula semacam diorama pohon yang sebenernya ad filosofinya namun jujur waktu itu aku ga dapat infonya huhu..

1487567904162

1487567971676

Selain rumah budaya, bangunan juga menyatu dengan cottage yang dibangun di area belakang dekat dengan kolam renang. Aku sendiri sempat cuma sekedar motret-motret buat dokumentasi pribadi dan kenang-kenangan sih.

Rumah Bung Hatta

Pagi-paginya kami diajak berkeliling ke Rumah Bung Hatta, salah seorang Bapak Proklamator kita yang telah berjasa dalam andil meraih kemerdekaan RI bersama Bung Karno. Menurut pengelolanya, rumah ini merupakan tempat kelahiran Bung Hatta yang telah menghabiskan kurang lebih 11 tahun di sana sebelum akhirnya meneruskan pendidikan di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah menengah di kota Padang. Bangunannya sendiri sudah melalui renovasi ulang atas gagasan Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara yang mengelola Universitas Bunga Hatta pada September 1994 dengan tetap mempertahankan gaya aslinya baik dari sisi bangunan maupun perabot yang ada (sebagian besar terbuat dari kayu surian) setelah runtuh pada 1960.

1487568969727

1487569035766

1487569163237

Terletak di kawasan Pasa Bawah atau Kawasan Mandiangin, rumah ini aslinya merupakan rumah dari nenek Bung Hatta yang merupakan masyarakat Suku Jambak di Nagari Kurai Limo Jorong atau lebih dikenal dengan nama Bukittinggi. Karena dalam sistem adat Minangkabau sendiri, seorang laki-laki apabila telah menikah maka ia akan tinggal di rumah isterinya. Begitupula yang dilakukan Pak Gaek atau kakek Bung Hatta yang menetap di rumah istrinya bahkan sampai membuatkan rumah untuk anak-anaknya.

Rumah ini lebih mengambil arsitektur ke arah rumah panggung dimana bagian dalam atau interiornnya dikonsep tanpa sekat. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesan lapang dan mempermudah kegiatan adat seperti misalnya jika ada kenduri atau hajatan nikahan.

Jika diliat dari depan, Rumah Bung Hatta masih tampak asri dengan beberapa tanaman yang menghiasi halaman. Ada tiga pohon jambak di bagian depan rumah, murbai di bagian belakang rumah, serta pohon sawo di depan istal. Tanaman lainnya juga dirawat dengan sangat telaten seperti tetehan, bungo kuniang, adam dan hawa, pinang rajo, kaladi aie dan lainnya.

1487569235905

1487569326055

1487569105642

photogrid_1487536135735Rumahnya terdiri atas 2 lantai dengan pembagian ruang tamu, paviliun, kamar tidur (kamar Mamak Idris, kamar Bujang, kamar Pak Gaek, kamar nenek serta pamannya). Kemudian ada pula dapur, ruang makan, lumbung padi, kamar mandi, kolam ikan, istal atau kandang kuda, bahkan sumur.

Sebenarnya, terdapat beberapa perbedaan antara rumah sebelum dan setelah dibangun ulang. Antara lain : sumur yang tadinya berada di belakang rumah kini diposisikan berada di salah satu bilik rumah bagian belakang, lalu istal yang dulunya dapat memuat beberapa ekor kuda kini hanya dapat memuat 4 ekor saja dengan menggunakan sekat, serta struktur bangunan kayunya diganti menjadi bangunan beton bertulang dengan dilapisi kayu pada bagian luar.

Aku sendiri paling senang memandangi bagian ruang tamunya yang mengingatkanku akan kenangan rumah lama. Model korsi-korsinya menyatu dengan meja sehingga betul-betul vintage dengan taplak penuh renda-renda khas Minang. Apalagi suasana semakin hangat karena penerangannya benar-benar menggunakan lampu gantung yang artistik namun cantik, dipadu dengan dinding-dinding tua yang bercerita karena terpajang beberapa foto dan perabot-perabot penuh kenangan lainnya. Apalagi begitu masuk ke bilik-bilik kamarnya yang bernuansa cokelat kayu (terutama pada kamar lantai 2 dimana Bung Hatta dilahirkan), wuih pokoknya campur aduk serasa dibawa ke masa lalu sejenak dan menyaksikan kanak-kanak hingga bujangnya Bung Hatta dilihat dari tempat tinggalnya yang homey sekali ini.

1487569190245

1487569385438

1487569279147

Rumah Bung Hatta

Jl. Soekarno-Hatta no. 37, Kelurahan Aur Tanjungkang Tengah Sawah, Kecamatan Guguh Panjang, Bukittinggi, Indonesia

Panorama Lobang Jepang dengan Latar Belakang Ngarai Sianok

Perjalanan selanjutnya membawaku napak tilas ke Panorama Lobang Jepang yang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara pendudukan Jepang pada tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan keamanan saat perang. Panjang terowongannya sendiri mencapai 1400 m dengan lebar sekitar 2 meter. Konon, bunker ini dulunya mampu menahan getaran letusan bom sekuat 500 kg.

1487569543235

1487569751555

1487569781159

Lobang Jepang ini merupakan salah satu lubang terpanjang di Kawasan Asia dengan panjang melebihi 6 kilometer, bahkan beberapa bagian bisa tembus di sekitar Ngarai Sianok, Jam gadang di samping Istana Bung Hatta, juga Benteng Fort De Kock yang masuk ke wilayah Kebun Binatang Bukittinggi.Memang, objek wisata ini masih berada dalam satu kawasan yang sama dengan Jam Gadang, hutan kera dengan latar belakang Ngarai Sianok yang berhamparkan sawah-sawah nan kuning keemasan disertai dengan tebing-tebing yang demikian tinggi. Selain itu banyak pula pasar cinderamata yang menjual aneka kerajinan khas Koto Gadang seperti renda bangku, lukisan, tas-tas rajut, serta aneka songket. Aku cuma numpang foto doang sik, hihi…maklum uang sangu buat dolan-dolannya ga dikasih banyak dari kantor #oops.

Untuk masuk ke dalam, kami harus menuruni serangkaian undak-undakan yang meluncur ke bawah demi bisa menjelajahi ruangan khusus yang ada di dalamnya. Menurut cerita pemandu wisata kami, terdapat 21 lorong kecil yang fungsinya bermacam-macam mulai dari ruang amunisi, ruang rapat, pintu pelarian, ruang penyergapan penjara, serta yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah ruang dapur dengan meja beton besar yang digunakan sebagai media untuk memotong-motong tahanan yang sudah tewas lalu dibuang melalui lubang air ke bawah. Sementara itu, bagian penjara digunakan untuk menahan siapa saja yang melawan serta perempuan-perempuan sebagai budak seks Jepang. Hiiiyyyy……Sungguh horror bukan? Apalagi suasana juga lumayan gelap dan minim lampu di dalam sana, tapi demi memenuhi rasa penasaranku, kuberanikan diri juga untuk turun ke bawah hahaha…yach meski dapat oleh-oleh kaki gempor plus pegal-pegal tentu saja.

 

1487569648455

1487569611834

1487569711765

Panorama Lobang Jepang

Jl. Panorama, Bukit Cangang Kayu Ramang, Kecamatan Guguk Panjang, Bukit Cangang Kayu Ramang, Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat

Jam buka : 07.30-18.30 WIB

Tiket hari libur Rp 8.000,-, hari biasa Rp 5.000

Jam Gadang

Kalo kita ke Padang terus ga mampir Bukittinggi sama pose di depan jam gadangnya tuh rasanya hoax sekali ya qaqa…Maka dari itu, akupun ga ketinggalan buat mengabadikan diri di depan jam yang rampung dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Belanda.

Terdapat perubahan bentuk atap Jam Gadang dari awal pendirian yang mulanya berbentuk bulat dengan patung ayam jago menghadap timur, kemudian diganti bentuk pagoda pada masa pendudukan Jepang, hingga terakhir setelah kemerdekaan RI menjadi bentuk atap rumah adat Minangkabau atau biasa disebut gonjong.

Perancang Yazid Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh
Tipe Menara Jam
Material Kapur, putih telur, pasir putih
Tinggi 26 meter (85 kaki)
Tanggal selesai 1926

Sumber informasi : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Jam_Gadang

img_5983

Sebenernya aku cuma sebentar sih masuk ke sini, karena kebetulan emang plesirannya cuma selintas-selintas sambil mainan amazing race dari pihak panitia. Habis itu lanjut lagi ke tempat lainnya yang lebih jauh yakni Lembah Harau, satu tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya karena begitu nyampe ke sana, alamakjang merinding saking bangganya ama Indonesia punya tempat seindah ini yang bernama Lembah Harau.

Lembah Harau

Dengan menyewa angkot, akhirnya kami sepakat menuju ke tebing paling eksotis yang pernah kulihat, yaitu Lembah Harau. Iya, modanya cuma itu karena kan tujuannya adalah seneng-seneng ngiterin tempat wisata se-Padang Raya dengan tujuan akhir bermuaro ke Istana Pagaruyuang jam 3-an sore nanti. Nah, untuk menuju ke Lembah Haraunya tadi, kami harus rela urun duit buat patungan karena harga sewa angkot lintas Kabupaten Kota sedikit naik dibandingkan dengan tarif muter-muter area Bukittinggi #yaeyalah. Sebenernya dikasih panitia Rp 100.000,- buat dimanage-manage ala-ala Amazing Race gitu, apakah kami sanggup ke semua list tempat wisata dengan bugdet segitu apa nombok. Ya akhirnya nombok juga sih karena kan sempet mampir pasar juga buat beli bekel ama nasi padang yang kami makan di angkot meski harus muluk tanpa sendok, wkwkwk… ya biar perut ada energinya dikit gitu.

Kurang lebih sekitar 2 jam perjalanan, kami pun mulai memasuki area lembah yang merupakan sebuah ngarai, di Kabupaten Limapuluh Koto, Payakumbuh, Sumatera Barat yang diapit bukit -bukit cadas setinggi 500- 850 meter dari permukaan air laut yang terdiri dari Bukit Jambu, Bukit Air Putih, Bukit Singkarak, dan Bukit Tarantang. Juga tebing-tebing granit setinggi 80-300 m  yang di bawahnya membentang sawah-sawah Sumatera dengan padi yang mulai menguning. Amboi indahnyo….

Ga cuma mandeg di bagian tebingnya sih, tapi angkot kami juga akhirnya bablas lurus menuju air terjunnya. Cuma aku lupa naman air terjunnya apa, yang jelas di pinggir-pinggirnya banyak penjual tanaman unik bernama Cibotium Barometz atau yang lebih dikenal dengan nama pakis monyet karena bentuknya yang menyerupai ekor monyet berbulu cokelat keemasan. Tanaman asli dataran tinggi hutan tropis ini memang banyak dibudidayakan warga lokal untuk dijual sebagai tanaman hias. Media tanamnya bisa menggunakan tanah, bisa pula menggunakan sedikit sekam untuk menambah pori-pori pada tanah. Yang pasti tanaman bisa tumbuh dengan baik asalkan tetap mempertimbangkan suhu idealnya antara 14-28 °C serta kelembapan udara 80-90% untuk mencegah munculnya cendawan/jamur maupun kekeringan. Aku sendiri ga beli sih, cuma memperhatikan teman yang sibuk menawar, entah akhirnya dapat harga deal berapa.

1487569988258

1487570021358

1487570059103

Di Lembah Harau sendiri, terdapat sebuah legenda tentang keberadaan Inyiak atau harimau jadi-jadian. Entah cerita tersebut benar atau tidak yang jelas malah membuatku semakin tertarik untuk pasang kuping ingin mengetahui lebih dalam. Dikatakan oleh sopir yang mengemudi angkot kami, kabar angin tersebut mengisahkan tentang inyiak yang berasal dari salah satu goa di Payakumbuh, lebih tepatnya yang berada di Lembah Harau. Di goa tersebut, seorang pertapa menguasai silat harimau hingga akhirnya dapat menj3lma menjadi harimau jadi-jadian yang menguasai daerah Harau, bahkan sampai ke Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Konon, jika ada seseorang yang sudah di incar oleh inyiak ini, maka kemungkinan besar dia bisa dibawa ke kaum bunian (dunia mahluk halus). Waooow, merinding ga gaez! Aku sih iyes, ga tau kalo Mas Anang. Hahahha..

Istano Basa Pagaruyung, Batusangkar

Sekitar pukul 15.00 WIB, kami pun balik arah dari Lembah Harau menuju Istano Basa Pagaruyung yang terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Istana ini merupakan replika dari bangunan Rajo Alam yang dibakar Belanda pada tahun 1804, meskipun sempat tersambar petir pula pada tahun 2007. Bangunannya sendiri terdiri dari 11 gonjong (atap rumah khas Minangkabau), 72 tonggak dan 3 lantai, surau, tabuah, bilik (kamar) anggota kerajaan, serta rangkiang patah 9, lengkap dengan beragam ukiran yang tiap-tiap bentuk dan warnanya memiliki falsafah tersendiri.

1487570347250

1487570408734

1487570180397

Saat tiba di sana, kami langsung digiring para uni setempat untuk salin dengan pakaian adat minang yang gemerlap warna-warni. Ada yang merah tua semi emas, ada yang pink fanta, biru, hijau, ungu, oranye, dll. Meriah sekali berikut atribut kepalanya yang mana disebut sebagai suntiang. Aku sendiri memilih warna merah kombinasi emas karena terinspirasi beberapa model kawinan artis berdarah Minang ysng tampak anggun serta berkilau dengan pilihan warna itu. Ya kami dandannya buat sekedar ‘hore-hore’ aja sih meramaikan suasana, namun dengan cara yang cukup simpel karena sama sekali ga pakai riasan seperti halnya yang dikenakan pada pengantin beneran. Paling-paling cuma didobel dengan baju bawaan, dan dipasangi suntiang saja. Itupun suntiang yang sudah didesain simpel khusus untuk tamu-tamu yang berkunjung di sana. Ya, walau kuakui tetap saja berat sih di kepala.

1487570536282

1487570609860

1487570677472

1487570642803

Selain didandani bak gadis Minang, kami juga dijamu dengan sajian yang bisa kubilang mewah setelah menyaksikan tari-tarian dan pertunjukan membunyikan alu dan lumpang oleh masyarakat adat sana. Segala masakan Padang berikut kue-kue tradisionalnya dikeluarkan. Model makannya lesehan dengan menu yang semula ditutup dengan kain bersulam benang emas. Cantik sekali menyerupai model songket juga namun dalam ukuran yang lebih kecil dengan jumlah mengikuti piring. Begitu dibuka ternyata isinya macem-macem kayak ikan bilis pedas, daun singkong rebus, empal daging, ayam pop, gulai ikan, gulai nangka, sambal ijo, serta buah-buahan seperti jeruk dan pisang. Sementara itu penganan khasnya berupa bugis ketan, lemang tapai, kue talam, kolak, dll. Begh….pokoknya ena-ena lah.

photogrid_1487536517039

1487570376838

1487570493586

1487570567055

Sate Padang Mak Syukur Padang Panjang

Sebelum benar-benar meninggalkan Tanah Minang dan bertolak ke bandara, kami menyempatkan diri untuk singgah ke Sate Padang Mak Syukur yang berlokasi di Jalan Sutan Syahrir No. 250, Silaiang Bawah, Padang Panjang. Katanya sih belom sah hukumnya kalo belum mencicipi satenya yang sudah terkenal di kalangan orang pemerintahan jika ada kunjungan daerah. Ya kita buktikan saja sendiri, apakah rasanya sama seperti sate padang lainnya yang biasa dijual di Jabodetabek.

Setelah masing-masing dari kami pesan sepiring, ternyata rasanya sungguh lain dengan yang di luar Padang sana. Mungkin sensasinya lebih berasa kali ya karena makan langsung dari tempat aslinya. Kalo di tempat lain si sate biasa diganti dengan lidah sapi, di Mak Syukur ini benar-benar menggunakan daging dengan keratan besar-besar di tiap tusuknya. Namun sebenarnya, sate lidah, sate usus maupun sate jantung sapi juga tersedia sebagai variasi menu lainnya. Bumbunyapun khas rempah dengan warna kuning kunyit pekat yang semakin terasa pedas begitu sampai di pangkal lidah. Akan terasa nikmat lagi jika sate beserta bumbu, juga irisan ketupat dimakan bersamaan dengan kerupuk maupun emping yang tersedia di meja. Mengenyangkan? Pasti.

1487570743036

1487570704117

Selain sate, di sini juga tersedia dagangan lainnya macam kue bugis, keripik balado, rendang telur, karak kaliang, serta kerupuk jangek alias kerupuk kulit. Aku beli beberapa sih untuk tambahan oleh-oleh orang rumah, terutama kakak yang waktu itu penasaran sama rendang telur.

Emmmm…pengen ke Padang lagi jadinya…tapi bareng si Pak Suamik ahahah

All photos taken by  Gustyanita Pratiwi alias dokumentasi pribadi, cyiint

Advertisements

32 thoughts on “Pengalamanku Mengunjungi Tempat-Tempat Wisata di Padang dan Bukittinggi”

  1. Wuih… Lengkaaaaap. Pengen gitu ajak anak-anak muterin Indonesiaaa.. salah satunya ya ke Padang ini… moga bisa terealisasi (amiiin)

    Like

    1. loh ka ev dikau yang dah melalnglang buana ke banyak tempat, blom pernah ke sumatera kah hihi
      iya eksplore padang bikin nganga, soalnya masih indah banget, kayak alam yang masih perawan gitu *eh

      Like

  2. ah aku sih belum pernah kesana nyitt pengin
    pengen deh makan sate padang langsung ke tempat asalnya bhahahak

    Like

    1. yoih mas jo, blog eyke kan banyak hahahhaha, wordpress en blogspot 2 2nya masih jalan bareng dong yes, updatenya hihi
      btw sebenere itu jaman2 tahun 2014 mas, sayang aja kalo foto-fotonya ga dibikin cerita meski latepost pake banget \(‾▿‾\)┌(_o_)┐ (/‾▿‾)/┌(_o_)┐

      Like

  3. Salah satu asyiknya jadi jurnalis ya Nit..banyak kesempatan untuk melihat Indahnya Indonesia. Sering kangen masa lalu ndak?
    Btw, pakis monyet…blm pernah lihat di sini..
    Ato cuma ada di sumatera yaa?

    Like

    1. Jalan jalannya sik kangen mb sulis, klo bossnya…wakakkakak, ogah banget hahhahahahha
      Cukup sekali aku merasaaa aaaa jadi anak buah yang kudu diprintah sana sini dg minimpenghargaan #eh jadi curcol kikikik

      Like

  4. Fotonya berukuran besar dan bagus-bagus, sayangnya ukuran font terlalu kecil sehingga saat membaca untuk mata seusia saya agak kurang enak dilihat, kaau bisa agak diperbesar sedikit… #sekedarsaran

    Like

  5. nah….malah saya belum pernah mampir ke Padang. Ada sih beberapa teman yang tinggal di sana.
    Mungkin jika kesempatan ke Padang, saya bakal mendatangi lokasi yang lebih banyak dari artikel ini,,,hahahaha

    Like

  6. Aw ada gadis pake suntiang… Mbul inih udah nikah blum? kamu juga harus ikutan punya. Nggak semua. . 2014 yaaa
    Pengin ke Padang, cakep2 di sana ya view bukit2 gitu mbul. Lihat temen, honeymoon ke Padang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s