Pengalamanku Jalan-Jalan ke Pantai Ayah, Gombong, Kebumen Part 2 : Panas-Panasan Jam 12 Teng !

Kelar ‘isi bensin’ di Warung Cempluk, aku dan keluarga pun segera menginjakkan kaki ke Kawasan Pantai Ayah yang kala itu sedang ramai-ramainya. Maklumlah, hal ini dikarenakan masih suasana lebaran sehingga isi pantai tumplek-bleg sama lautan manusia. Mulai dari tua-muda, besar-kecil, semua ada, namun kebanyakan memang didominasi oleh ABG ato remaja tanggung yang membawa pasangan entah sekedar cari angin atau memang ada keperluan ngevlog lengkap dengan cangklongan kamera DSLR yang dikalungkan pada leher masing-masing. Wow ! Dalam hati aku pun berkata, rupanya virus ngevlog udah mulai menjangkiti muda-mudi desa dengan niatan ingin mempopulerkan wisata daerah #keplok-keplok salut, Tembul aja nda punya DSLR #lalu memandangi camdig butut yang klo ga disetting berkali-kali suka bikin pingin nyanyi, hiiiih. Padahal boleh dibilang waktu itu temasuk sedang terik-teriknya lho, namun ternyata hal tersebut tak menyurutkan semangat kami untuk mengeksplore seberapa kekinian objek wisata yang memiliki 2 konsep utama ini. Wisata hutan dan juga wisata bahari. Wisata hutannya diaplikasikan lewat Hutan Wisata Logending yang dikelola oleh Perum Perhutani Wilayah Kedu Selatan sedangkan wisata baharinya berupa Pantai Ayahnya itu sendiri.

1506104386889

“Sensasi Naik Kapal Membelah Muara Sungai Bodo”

Objek wisata yang terletak 15 km ke arah selatan dari jalan propinsi ini juga memiliki satu lanskap lainnya yang cukup menarik yakni terdapatnya Muara Sungai Bodo yang memisahkan antara Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Cilacap. Nah, rupanya kami memang tertarik sama yang ini nih. Langkah kami akhirnya terhenti tatkala mendengar suara rayuan tukang kapal yang menawarkan jasa susur sungai andaikata kami ingin naik sampe kawasan hutan mangrove. Kata si Abangnya murah aja cuma Rp 10 ribu per kepala–uda PP (Pulang-Pergi). Jadi klo dikali 5 Rp 50 ribu (uwaaaaaawwww). Berhubung kami masih katrok dan belum engeh, ini nantinya sekalian diturunin di hutan mangrovenya–ditungguin–terus dianter balik apa cuma lewat di pinggir-pinggirnya doang abis itu pulang ato gimana, jadi kami main hayok aja, hahaahaaa.

Yang ngebet pengen nyobain sensasi ngapal ini sebenernya Pak Su ya, jadi tanpa ba-bi-bu lagi deseu langsung ngeluarin duit gocap dari balik dompet sehingga mau ga mau kami harus naik #pasang tampang gemashh. Namun karena ibu sama Kunyut juga penasaran yaweslah aku ngikut aja. Sembari tetep was-was karena takut kapal goyang-goyang mengingat aku masi berada dalam fase mabok bin kliyengan. Yah semoga saja amunisi seafood yang uda aku dapatkan dari Warung Cempluk tadi ga keluar dengan sia-sia, hahaa….

Baca juga : Jalan-Jalan ke Pantai Ayah Part 1 : Tergoda Seafood di RM Cempluk

This slideshow requires JavaScript.

1506096470157

1506096518277

Kapal pun satu-persatu mulai diisi dengan calon penumpang melalui satu titian panjang yang sudah dikaitkan dengan jangkar dan tali tambang. Karena licin, tangan Pak Su pun tak lepas dari genggamanku saat aku mulai meniti papan untuk memastikan posisi tetap dalam keadaan aman. Paling-paling yang bikin ribet adalah karena aku udah mulai memakai daster yang mana diteriakin mami supaya harus cincing (dinaikkan dikit) sehingga tidak menyulitkan kaki saat melangkah.

Setelah semuanya duduk, eeeeh tiba-tiba Abang kapalnya bilang dengan entengnya : “Pindah ke sini ya, yang mau berangkat kapal yang sebelahnya, biar penuh sekalian !” Omaigaddddd, sontak penumpang yang kebanyakan uda pewe di tempat masing-masing ini pun terpaksa pindah sambil sedikit menggerutu. Gimana engga, uda enakeun dapet kapal yang dudukannya ada senderan punggung, e disuruh pindah ke kapal yang ga ada senderannya. Uda gitu kanopinya ga seteduh yang semula pula terus kanan kirinya cuma dilindungi pager kecil. Yasalaaaam. Tapi yawdala…eyke pasrah aja sembari berlindung di balik punggung tangan Pak Su biar pas ada goncangan amaaaaan.

Setelah semua penumpang pindah, mesin kapal pun
dinyalakan. “Brummmmmb bubumb bummmm bummm bummm bumm, ngeeeeeeng !!!!”. Suaranya kenceng banget, memekakkan telinga. Kami melaju melawan arah matahari sehingga hawa panas semromong kerasa banget menampar pipi. Lebih kerasa lebih nampol lagi terutama pas aku dalam kondisi ga boleh pakai make up.…duhhhh tau gitu tadi kan seenggaknya pakai tabir surya ya aaaaaarrrrgh hahaha…yawes deh emang bener kata si Kunyut : “Upaya pemutihan satu bulan waktu puasa bakal gagal sudah setelah acara mantai ini wkwkwk.”

1506096580487

1506096553561

1506104460421

Gustyanita pratiwi 2

Melihatku yang takut item itupun, Pak Su lantas ketawa-ketawa. Ujarnya blio : “Senajan koe dadi ireng, yo aku tetep cinta kok Nduk. Malah jadi kayak artis siapa itu Mbul yang main ama Derbi Romero di film Kepompong?” Mika Tambayong? Huft klo aku si bukannya Mika Tambayong, tapi Mika Iwak Bayong kalik, hoho…#Tembul sensi sambil nutupin muka pake bawahan kerudung hingga menyerupai Ninja Sasuke #namun lagi-lagi hal ini malah memancing tawa Pak Su makin meledak disusul kemudian ibu, bapak, juga si Kunyut. Kata bapak : “Latian ojo cemen, biar anaknya besok juga pemberani dan sekuat Younkou.” Hohoho. Ukey deh Pak, siyaaap ! Namun begitu kapal jalan makin kenceng, sensasi panas lambat laun mulai menyurut. Angin sepoi-sepoi mulai berhembus walau klo dapet sisi yang satunya tetap aja kebagian silau.

Kapal terus melaju sampai melewati kolong jembatan pemisah antara Kabupaten Kebumen-Cilacap yang di atasnya lalu lalang kendaraan bermotor. Lumayan juga pas ngiyub di kolong jembatan. Udara yang tadinya semromong perlahan-lahan tertutup atap beton yang sanggup membentengi matahari walau sejenak. Abis itu ya balik lagi ke arah yang tadi. Iya jadi finishnya itu cuma kolong jembatan itu doang. Terus puter haluan menuju arah pulang.

Loh…loh…loh…? Ladalah, la kok ndak nyampe Mangrovenya to Mas? Piye iki? Jare dibawa buat menyusuri mangrove, ternyata mung lewat tok di pinggir-pinggirnya. Maksud aku, kirain dengan tarif Rp 10 ribu itu bakal didrop buat muter-muter ke kawasan mangrove, ditungguin, terus dijemput pulang lagi. Ealaaaaah ternyata tidak pemirsa?

“Mencari Sendiri Pintu Masuk Wisata Mangrove”

Karena agak down sama ekspektasi awal, maka begitu turun kapal, kami pun milih jalan sendiri nyari area hutan mangrovenya. Dengan mengikuti arah peta yang sudah kami potret juga bocoran info dari tukang parkir, kendaraan kami pun reparking di area TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Tempat ini nyaris sepi dan lumayan membingungkan karena kok nda keliatan pintu masuk bagian mangrovenya. Selidik-punya selidik, untuk mencapainya kami harus muter dulu ngliwatin jalan belakang TPI barulah nanti ketemu gerbang masuknya. Yawes, karena dah kadung parkir walo gratis, kami pun nurut aja karena masih penasaran sebelum beneran nyampe tempat yang dimaksud.

1506096382276

1506096328107

1506159189510

Dari tempat parkir ke jalanan tanah yang direkomendasikan tadi, ternyata rutenya lumayan jauh. Kami harus melewati serangkaian tempat sampah dulu yang aromanya sungguh sangat menyiksa, juga sungai yang airnya dah mulai surut. Kondisi jalanan begitu berdebu bahkan di beberapa spot ada pula yang becek. Makanya kendaraan roda 4 dilarang melintas area ini karena masih belum tertatanya infrastruktur.

Baru juga separuh jalan, tiba-tiba gejolak hormon kliyenganku kambuh. Tiba-tiba badan ini berasa lemes banget kayak disedot vampir….tenggorokan kering, mata berkunang-kunang, juga dehidrasi parah #lalu lambaikan tangan ke kamera, Tembul ga kuat, Tembul nyerah….Kebetulan waktu itu jalannya emang dua-duaan. Kunyut dan Bapak uda berada di depan sana saking semangatnya menuju hutan bakau. Sementara, aku dan ibu menyusul di belakang. Pak Su? Blio masih ngurus ulang parkiran biar posisinya ga terlalu jauh saat uda balik nanti.

Pas kliyengan itu, Ibu yang ngeliat mukaku pucet pasi mendadak langsung panik. Blio menyarankan, mending aku duduk dulu di batang pohon kelapa yang kebetulan ngegelosor di pinggir jalan biar ga sampe pingsan. Beberapa orang yang lalu lalang ampe ngliatin, mungkin sambil ngebatin : “Kenapa ni anak?” Tapi karena saking lemesnya, aku dah sebodo teuing ga mikir apapun, kecuali pingin duduk meski muka uda saking kucelnya. Bapak ama Kunyut yang uda berada nun jauh di depan sana sempet nengok ke belakang sih, seolah bertanya : “Jadi lanjut engga ni? Tanggung uda nyampe pintu masuk?” Ibu pun mengisyaratkan supaya mereka lanjut aja, sementara kami ijin ndeprok bentaran di puun kelapa nunggu tenagaku pulih lagi.

Tak berapa lama kemudian, Pak Su datang membawa air mineral. Dari situ perlahan-lahan tenagaku mulai pulih dan ngerasa sanggup buat jalan lagi. Kira-kira 15 menitan jalan lurus….terus ketemu banyak pedagang jajanan kayak pecel, es, juga pop mie, jalanan lalu mengarah ke belokan kecil yang diawali dengan plang hijau bertuliskan : “Rintisan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE)”, Laguna Sungai Bodo, Desa Ayah, Kecamatan Ayah, Kebumen. Di sana uda muncul beberapa petugas jaga untuk mengecap tangan kami. Harga tiket masuknya untuk dewasa Rp. 4.500,- sementara anak-anak Rp. 2.500,-. Murah kan? Setelah itu, kami bebas menyusuri lorong-lorong titian bambu yang di pinggir-pinggirnya tumbuh subur tanaman mangrove meski air di bawahnya sedang dalam keadaan surut. Nah, karena surut itulah, ikan-ikan unik yang ada di permukaan tanah gambutnya jadi keliatan semua. Ga tau salah tebak ato ga tapi penampakan ikannya ini mirip salamander gitu. Bentuknya kecil-kecil, tapi ada kakinya dong…..coba deh nanti aku cek dulu di google, ikan jenis apa yang dimaksud itu.

Oh ya, ngomong-ngomong soal kawasan mangrove, pasti pikiranku selalu tertuju sama yang ada di PIK (Pantai Indah Kapuk). Secara uda cukup sering mbolang ke sana. Agak mirip memang. Cuma yang di sini lorongnya ga sepanjang yang ada di PIK. Titiannya juga menurutku masih jauh lebih kecil dengan yang di PIK sehingga untuk beberapa belokan musti ada sesi gantian terlebih dahulu dengan pengunjung yang berlawanan arah. Yah, kita doakan aja, smoga ke depannya makin serius aja ya pengembangannya biar makin banyak lagi pengunjung yang datang.

1506160650318

IMG20170629140247

1506159934962

1506096426097

Klo spot yang banyak dijadiin swafoto itu setelah aku amat-amatin adalah bagian rumah gazebo yang berada setelah tanjakan jembatan bambu. Klo uda nyampe daerah situ tuh, terus ketemu rumah tingkat yang dimaksud, maka siap-siap antri deh, klo pengen foto-foto.

Kurang lebih pada jam-jam ashar kami memutuskan buat cabut dari lokasi. Takutnya kemaleman, karena kan masih suasana arus balik ya, jadi kami harus antisipasi macet. Namun, sebelum beneran pulang, kami nyempetin dulu buat sholat. Kebetulan di situ ada satu mushola kecil yang berada di deket parkiran TPI. Tadinya ragu, antara mbatin ini mushola masih bisa dipake apa ga ya mengingat bangunannya yang kurang terawat? Tapi setelah memastikan tempat wudhunya ngalir, juga ada beberapa mukena di dalam, akhirnya kami putuskan buat sholat aja di sana. Males kan klo sampe ketabrak magrib yang jamnya jalan cepet banget?

Ceritanya kan kami mau jamaahan nih. Abis wudhu, para cewek uda baris di belakang shaf bapak-bapaknya. Eh,…waktu uda takbiratul ihrom, selintasan pandang mataku menatap 3 ekor kluing (luluh aka kaki seribu) yang kelonjotan di atas keramik. Belom nyampe sejadah sih, cuma itu deketttt banget, tinggal beberapa centi aja klo dia gerak dikit uda deh mlungker di tempat sujud. Ughlala…agak-agak skeri gimana gitu kan hahahhaha… Jadi agak susah fokus terus ngebatin, ibu ama Kunyut liat ga ya ? Tapi untung aja sampe tahiyat akhir, mereka stay cool mlungker di tempat awal, wkkk. Terus baru gerak sedikit abis aku copot-copot mukena. Setelah salam, aku langsung bisikin ke ibu sama si Kunyut yang langsung ditimpali mereka dengan ekspresi njundil alias begidik ngeri bgitu ngeliat apa yang kuliat. Kamipun keluar mushola sambil ketawa-tawa. Tanpa sadar, setelah kami cabut, ada 1 kloter keluarga lainnya yang hendak sholat setelah ngliat kami asharan di situ. Secara otomatis, hal ini langsung menimbulkan obrolan geje diantara aku, ibu, dan juga si Kunyut : “Jyaaah, ati-ati Mbak, di deket sejadah ada uget-ugetnya, hiiiiiiy….!”

All photo’s milik Gustyanita Pratiwi

Advertisements

19 thoughts on “Pengalamanku Jalan-Jalan ke Pantai Ayah, Gombong, Kebumen Part 2 : Panas-Panasan Jam 12 Teng !”

  1. Mbak nita photo pasir pantai ayahnya kok ngak ada, hehe, pengen lihat.

    Berarti mangrove sama pantai ayahnya satu tempat iya,?

    Kayakya sekarang banyak wisata mangrove iya, di semua daerah ada,

    Owh iya kebayang cerita lagi solat, walaupun ada ulat tapi masih tetap khusuk ya kan mbak hehe 🙂

    Like

  2. Kamu hamilnya brp bulan nit? Masih belum begitu kliatan soalnya 🙂 .. Tp aku dulu juga gitu, sampe 7 bulan juga msh kecil, mungkin krn bdnku juga ga gede kali yaa..

    Wisata mangrove yg pik aja aku blm pernah dtgin nih :). Sebenernya krn panasnya itu nit, makanya msh mikir2 ke tempat begini hihihi… Aku jg ga kuat panas kan.

    Like

  3. Duh sayang banget mbak mantai pengen kiat foro pantai pasir putihnya hiks oia mbaa somefsy main ke pantai jangan lupa pake sunblock yaaa ntr matang lho hehehhe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s