Pengalamanku Jelajah Jakarta dalam Sehari Part 1 : Mengunjungi Masjid Istiqlal, Monas, sampai Kota Tua

“Dadakan Ikut Jumatan di Masjid Istiqlal”

Note : jalan-jalan awal tahun 2016, baru sempet dibikin ceritanya sekarang πŸ˜€

Pertengahan tahun lalu adekku, Kunyut kebetulan sedang libur panjang. Liburnya ini dalam rangka memasuki tahun ajaran baru sebelum benar-benar memasuki salah satu bangku universitas negeri untuk fakultas kedokteran. Karenanya, daripada diem di rumah–mentok-mentoknya diribetin kucing-kucing kami yang jatohnya lebih mirip luwak white coffee, mending aku komporin dia buat main ke Jakarta. Eh, bukan Jakartanya langsung ding, melainkan pinggir Jakartanya. Maklum, aku sendiri domisili Tangerang, sedang kakakku domisili Bekasi. Jadi ujung ketemu ujung. Maksud aku, nanti si Kunyut nginepnya gantian. Berapa hari di Tangerang, berapa hari di Bekasi. Cuma tetep, rekomendasi tempat wisatanya aku saranin di Jakarta aja yang banyak pilihan. Mulai dari Monas, Kota Tua, atau Ragunan. Misal mau didatengin semua ya hayok, kami siap mengantar. Paling-paling requestnya ke Pak Su, suruh cuti di Hari Sabtunya, karena kan kebetulan Jumatnya tanggal merah (meski aku lupa libur apaan).

1506486365948

Karena si Kunyut sudah okay, akhirnya berdua dengan ibu pesen bus malam dengan tujuan akhir Terminal Poris Plawad. Kamis sore berangkat dari rumah (sementara bapak jaga kandang), Jumat subuhnya udah nyampe. Lalu calling buat kami jemput karena memang rencananya didrop dulu di tempatku.

Setelah puas mengistirahatkan badan, siangnya kami putuskan untuk dolan. Agendanya sih kata Kunyut Monas dulu, baru abis itu Kota Tua. Karena kasih opsi 2 tempat, maka kami estimasikan berangkatnya harus agak pagian. Jangan sampai lewat lohor. Soalnya kan Jumat ya, jadi Pak Su ada Jumatan.

Namun kadang memang keinginan ga sesuai dengan kenyataan. Kami jalan dari rumah pukul 09.00 WIB, lha kok ndilalahnya kejebak macet di area Karawaci sampai menuju Tol Karang Tengah. Prediksiku sih kendaraan lain mau bablas tujuan Puncak. Ya namapun libur long weekend, pastilah Puncak jadi sasaran. Kunyut aja kuajak ke Puncak ogah banget setelah ngeliat ribuan mobil yang rela mengular di luar jendela sana. Males mabok katanya. Lha wong ngliat dari sini aja uda mumet, apalagi yang ikut euforia hahaha…Ya ini masih mending sih ketimbang gangguan yang satu lagi, yakni telepon-telepon kerjaan kantor Paksu, meski aturan ini tanggal merah. Namun karena dasarnya aku udah apal banget tabiat beliau yang baik hati bin loyalitas tinggi terhadap perusahaan *preeet*, ya tetep diangkatin juga telpon-telponnya. Huft !

Lepas dari pintu Tol Karang Tengah, barulah jalanan mulai lancar, meski setelah menengok arloji kok ya jamnya berasa ngrangkak cepet banget. Tau-tau uda hampir memasuki waktu lohor. Mau ga mau kami harus nyari masjid dulu kan buat Jumatan Pak Su. Jadi kendaraan kami alihkan ke daerah timur laut Lapangan Medan Merdeka untuk menuju Masjid Istiqlal. Tadinya mau kasi opsi apakah kami cewek-ceweknya mau maen dulu ke Monas, sementara Pak Su Jumatan, atau sekalian ngikut sholat aja di sana. Terus kami pilih opsi yang terakhir sih. Takutnya ribet kalo ntar kepisah-pisah en meski henpun-henpunan kelar Jumatan, sementara di sekitar Monas kami ga tau tempat sholatnya ada di mana.

Tak lama kemudian, kendaraan memasuki salah satu gerbang menuju kompleks Istiqlal, yakni yang berdekatan dengan jembatan yang di bawahnya mengalir Sungai Ciliwung dan di kanan-kirinya berupa lapangan parkir. Tadinya sempet muter-muter tuh masuknya lewat mana, karena gerbangnya kan terdiri dari 3 sisi kompleks masjid ya. Pertama sisi utara yang menghadap jalan veteran. Kedua, sisi timur yang menghadap Gereja Katedral. Ketiga, sisi tenggara-selatan yang menghadap Jl. Perwira dan Kantor Pusat Pertamina, serta yang terakhir sisi barat yang menghadap rel kereta api yang menghubungkan Stasiun Gambir dengan Stasiun Juanda yang pintunya udah ditutup. Nah kami awalnya muncul dari sini nih, tapi karena udah ditutup ya akhirnya muter lagi lewat sisi timur yang menghadap Katedral.

1506580908449

Setelah turun dari mobil, rombongan cewek berpisah dengan bapak-bapaknya. Aku, ibu, dan si Kunyut mulai memasuki lantai dasar untuk menanyakan di mana tempat wudhunya. Sebelumnya, sendal yang kami bawa harus dititipkan dulu ke tempat penitipan dengan dialasi tas kresek. Ya, walau rada diduitin juga sih sama penjaja tas kresek yang bertaburan di halaman masjid. Kebanyakan setengah maksa dan rada nakut-takutin gitu. Katanya, kalo ga dikasih plastik rawan ilang. Terus disuruh beli deh, satu kresek dikenai tarif Rp 2000-an. Tau gitu kan tadi bawa sendiri ya hahahha…..di mobil kan banyak tuh kantong kresek buat antisipasi muntah, duh ! Tapi ya udah deh, uda terlanjur.

Setelah urusan sendal beres, kami pun menuju tempat wudhu yang berada di selatan gedung utama. Tempat wudhunya ini sebenernya ada di beberapa lokasi yakni utara, selatan, dan timur gedung utama yang di dalamnya tersedia 100 unit tempat wudhu dengan keran air dari stainless steel yang tiap unitnya terdiri dari 6 bak keran sehingga jumlah keseluruhannya mencapai 600 buah. Kata Ibu tempat wudhunya mirip yang ada di Arab. Pancurannya muter, bawahnya kayak terhubung ke parit-parit. Dinding-dindingnya juga full keramik sehingga terkesan megah dan adem.

Kalo ingin pipis beda tempat lagi dari yang ada di situ. Karena toiletnya berada di sebelah barat dan timur lantai dasar, tepatnya di bawah teras raksasa. Katanya sengaja dibuat terpisah agar tetap suci dari hadas dan najis. Klo yang di sisi sebelah timur (lebih tepatnya di bawah emper masjid), lokasi toiletnya ada 2 dengan kapasitas 80 orang. Sementara untuk kamar mandinya berjumlah 52 buah dengan rincian : 12 buah di bawah emper barat, 12 buah di bawah emper selatan (dekat menara), serta 28 buah di bawah emper timur (sumber : Wikipedia).

Kelar wudhu, kami sempet bingung shaff perempuan adanya dimana. Klo cowok kan di lantai bawah ya. Walhasil pas belum engeh, kami sempet ikutan ndeprok kayak pengunjung lain tuh di area yang disebut sebagai teras besar. Teras ini bentuknya terbuka dengan luas 29.800 meter persegi. Bangunannya berlantai merah bata, biasa digunakan untuk menampung jemaah pada hari raya besar karena memang dirancang lapang dengan sirkulasi udara yang baik.

1506580998678

1506486545881

Gaya arsitektur Istiqlal sendiri mengambil konsep modern dengan dinding marmer yang berhias ornamen geometrik dari baja antikarat. Menurut info yang kudapat dari Wikipedia, bangunan utamanya dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang. Kami juga bisa melihat menara setinggi 96,66 meter di sudut selatan selasar masjid yang menjulang begitu indahnya sehingga sayang untuk dilewatkan begitu saja dari bidik lensa kamera.

Sekian menit terpesona akan keindahan arsitekturnya, tiba-tiba suara iqamat dikumandangkan. Beberapa jamaah putri berbondong menuju lantai atas yang akhirnya diikuti oleh kami dari belakang. Setelah sampai atas, ternyata banyak juga yang ikutan sholat. Bahkan beberapa ada yang dari rombongan pariwisata sekolah mana, juga warga keturunan Timur-Tengah dengan jubah hitamnya. Wah, memang benar-benar tempat untuk berbaurnya segala umat dari berbagai latar belakang ya. Sungguh indahnya kebersamaan dalam perbedaan, ya walau kami harus siap dengan bacaan surat yang panjang-panjang.

Oh iya, ada beberapa golongan yang ga ikutan sholat sih, terutama yang paling menarik perhatianku adalah 2 anak berwajah Arab kitaran usia SD yang sibuk menggoda adik bayi anak jemaah lain di sebelahnya. Keduanya antusias banget berusaha memancing perhatian si Beby mulai dari ngajak ketawa, bermain cilukba sampai diiming-imingi biskuit dan juga uang. Lucu aja sih ngeliatnya…hingga pemandangan ini sontak ngebuat aku dan si Kunyut langsung bisik-bisik…

***

“Sensasi Ngantri Demi Mencapai Puncak Monas”

Sekian tahun mendiami Jakarta (bahkan sempet ngekos yang jaraknya bisa dibilang jalan kaki aja dari Monas), belum pernah sekalipun aku menginjakkan kaki sampai ke puncaknya. Seringnya memang cuma sampe pelataran bawahnya, dan ga sempet masuk melihat-lihat bagian museumnya. Makanya, waktu Kunyut antusias ngajakin eksplore Monas, aku manut aja. Lagipula aku penasaran, di atasnya itu ada apaan aja sih? Apa bener kami bisa ngeliat bongkahan emasnya?

Kendaraanpun melaju dari Istiqlal menuju tengah Lapangan Medan Merdeka, di mana tugu Monas berada. Memang masih berada dalam satu kompleks, tapi jauhnya ga kira-kira. Setelah mengatur parkir, kami segera cabut ke pusat kompleknya walau harus berjalan lumayan jauh di tengah cuaca yang begitu terik.

Kami berjalan lurus melewati pagar pembatas antara penjual cinderamata dan Monasnya. Dari situ, kami ga polos begitu aja lanjut jalan kaki. Karena eh karena, klo dirasa-rasa agak gempor juga. Makanya kami sengaja nungguin kereta yang bisa mengantar kami sampai ke pintu masuk pengecekan tiket. Naik keretanya gratis, cuma musti sabar menunggu sampai pejumpang penuh ya.

1506487922738

1506491611350

1506487972188

1506487814999

1506488070949

1506488018858

Setelah sampai di pintu dasar Monas, kami segera membayar 4 tiket dewasa yang dikenai tarif Rp. 5 ribu (jika hanya sampai cawannya) serta tambahan Rp. 15 ribu (jika sampai puncaknya). Karena klo cuma mampir bagian cawan rasanya nanggung, ya udah kami sekalian bayar buat naik ke atasnya. Oh iya, monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 – 15.00 WIB ya.

Sebelum naik ke puncak, kami berniat ingin menjelajahi bagian dasarnya dulu. Tujuan kami cuma Museum Sejarah Nasional Indonesianya aja sih, sementara Ruang Kemerdekaannya kami skip. Takut ga cukup waktunya. Soalnya tau-tau jam uda muter aja, cepet banget. Jadi dari arah loket masuk, kami berjalan menyusuri undak-undakan yang lumayan panjang. Setelah itu kami tiba di satu ruangan besar berlapis marmer yang berisikan 48 diorama pada keempat sisinya, serta 3 diorama di bagian tengahnya. Diorama ini mendeskripsikan sejarah Indonesia sejak zaman pra sejarah, zaman kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, zaman penjajahan bangsa Eropa, perlawanan pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda, masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan revolusi, hingga masa Orde Baru. Sayang, foto yang diambil di sini banyak yang ngeblur karena diorama terhalang kaca penyekat, hiks.

Setelah puas berkeliling mencermati sejarah Indonesia lewat diorama, tiba giliran kami untuk menuntaskan rasa penasaran akan puncaknya. Namun demikian, nyatanya bukan hal yang mudah untuk mencapai ke sana, karena pengunjung diwajibkan mengantri terlebih dahulu saat akan menggunakan lift pada sisi pintu sebelah selatan. Mulanya kami pikir, ah palingan bentar aja nunggunya, ternyata setelah ditelusuri, lha kok antriannya mengular banget. Puanjaaaaaaaang betul sehingga lift yang hanya bisa menampung 11 orang dalam satu kali angkut itu harus benar-benar dipakai bergantian supaya tetap aman.

1506488661780

1506488113232

Setelah diitung-itung, mungkin ada 2 jam-an kami mengantri. Hampir putus asa sebenarnya karena kepala udah mulai kliyengan, juga keringat membanjir saking gerahnya. Untung aja Ibu bawa ‘sropot-sropot’ alias inhaler sampai akhirnya tiba giliran kami untuk naik lift. Kebetulan pas kami naik, lha kok ndilalahnya barengan sama kloter orang berbadan subur, jadilah dalam hati ini agak dag-dig-dug takut liftnya mandeg di tengah jalan, haha…Rombonganya lucu-lucu sih. Mereka nekad naik karena males kepisah dari anggota keluarganya yang nyaris punya bobot serupa. Bilang permisi mau naiknya sambil ngelawak pula, jadinya kan kami ga tega hahahaha… tapi setelah dipastikan aman oleh Pak Satpam, liftpun boleh melaju dan sampailah kami di pelataran puncak yang dapat menampung sekitar 50 orang ini.

Sesampainya di atas, ga banyak pemandangan yang bisa kami amati. Hanya ada teropong yang dapat digunakan untuk melihat seluruh view Jakarta from the top. Sementara bongkahan emasnya jujur ga bisa kami kepoin karena terhalang pagar besi di pinggir-pinggir balkonnya. Yah, memang segitu doang sih adanya. Paling-paling kami cuma bisa ngadem menikmati semilir angin dari atas ketinggian. Gimana Nyut? Lumayan kan? Daripada lumanyun hihihi… Setelahnya, kami pilih turun karena pastinya gantian dengan yang baru naik lift lagi. Kali ini kami lebih prefer turun via tangga darurat yang terbuat dari besi yang bawahnya terhubung sama sudut halaman luar yang mengelilingi monumen.

1506490589905

1506488487608

1506488594682

Di sana, rupanya ada pemandangan yang lebih menarik lagi, yakni terdapatnya relief yang menggambarkan sejarah Indonesia. Relief yang terbuat dari semen berkerangka pipa atau logam ini banyak menggambarkan tentang sejarah Kerajaan Singasari dan Majapahit, kronologis masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Spot menariknya adalah latar belakang Patih Gajah Mada yang sedang menghunuskan keris sehingga membuat aku tak lupa berfoto di sana.

1506579472115

1506576902071

1506490616212

This slideshow requires JavaScript.

***

“Kota Tua dan Parade Hantu”

Senja di Kota Tua adalah yang paling kami cari setelah seharian berjibaku dengan panas. Niatnya sih cuma pengen duduk-duduk aja di pelatarannya karena kami tahu museumnya pasti udah tutup. Maka, sekitar pukul 17.30 WIB, saat mentari bersiap kembali ke peraduan, kami putuskan untuk meluncur ke sana. Tak makan waktu lama bagi kami untuk tiba di lokasi karena rute dari Medan Merdeka, Harmoni, Glodog, hingga Sawah besar terpantau lancar. Paling-paling macetnya cuma pas perempatan Stasiun Kotanya, dimana segala macam angkot ngetem, belum lagi bus trans Jakarta jurusan Blok M-Kota yang hilir mudik di jalurnya. Namun ya begitulah seninya Jakarta. Klo ga rame, justru malah jadi aneh, hehehe…

1506578314026

1506578281782

1506578404670

1506576972117

1506577060859

Setelah menepikan mobil di area parkiran, kami berencana untuk sholat dulu karena memang saat itu bertepatan dengan adzan magrib. Seingatku, musholanya itu ada di deket-deket parkiran yang tembus ke pedagang-pedagang kaki lima area belakang Kota Tuanya. Berputar-putar kami cari, akhirnya ketemu juga walau suasana sore itu agak rungseb karena antrian yang cukup panjang. Sebenernya semua nyaman aja andaikata tempatnya dibuat agak luasan, atau toiletnya dibikin agak bersihan ya. Ya semoga ke depannya, banyak perbaikan deh supaya pengunjung juga puas waktu datang ke sana.

Usai sholat Magrib, kamipun bercengkrama sebentar di bangku-bangku bulat yang dipasang di area publik, sekedar mengamati keramaian yang ada. Ya, meski hari sudah menjelang gelap, namun suasana tetap gempita, dipenuhi muda-mudi dan rombongan keluarga yang memang ingin menikmati Jakarta tua yang bercerita. Apalagi semakin malam, lapak-lapak dagangan juga semakin ramai mulai dari makanan khas Betawi macam kerak telor, es potong, gado-gado, asinan, pecel, baso, mie ayam, otak-otak, cimol, cireng, rujak, gorengan, takoyaki, baju, sepatu, sendal, mainan, dsb…semua diserbu pengunjung karena memang harganya yang murah meriah. Ada pula persewaan sepeda yang dilengkapi topi hias warna-warni yang perjamnya dikenai tarif tertentu. Biasanya yang sewa pasangan muda-mudi nih, sekedar buat pephotoan, atau memang hobi gowes dengan sensasi yang lain dari biasanya.

1506576865729

1506578046070

1506576839325

1506576749740

IMG20160805175944

Hal paling menarik lainnya adalah saat mata ini menangkap satu kumpulan mahluk berpenampilan aneh di sepanjang jalan trotoar menuju Stasiun Kota. “Loh…kok kayak ngeliat hantu ya barusan?”, batinku seraya bertanya-tanya akan kumpulan yang didominasi maahluk bergaun putih dan berwajah seram. Gimana ga, lha wong di trotoar berlatar belakang dinding-dinding jalan itu berderet aneka memedi mulai dari Noni-Noni Belanda, Kuntilanak, Pocong, Drakula, Scream, Tuyul, Hantu tanpa kepala, sampai Valak pun semua ada. Make upnya menjiwai banget sehingga bagi siapa saja yang belum engeh pasti dijamin kaget melihat mereka. Iya….ternyata memang inilah salah satu suguhan Kota Tua di malam hari, yakni hadirnya manusia patung yang menyemarakkan berdandan ala hantu untuk menarik perhatian pengunjung.

Melihatku yang cukup takjub akan keberadaan mereka, Pak Su pun seakan tau dan membaca pikiranku. “Ayok klo mo foto, Dek!”, ajak beliau seraya menggamit tanganku untuk mendekati area itu. “Kunyut koe wani foto ra?”
, tanyaku pada si Adek. Lalu Kunyut sih agak jiper dan berusaha mencari yang sekiranya paling ga serem, hahaaaa….cemen. Diapun bingung menentukan pilihan, tapi dari sorot matanya, terbaca jelas klo ingin foto. Sama sepertiku sih. Bedanya aku suka sama yang seram-seram. Bahkan pengen aku ajak foto semua hahahhaha…

1506576940228

1506577457177

1506577533379

This slideshow requires JavaScript.

“Aku iki wae Mbak,” dia pun menunjuk manusia patung yang menirukan ekspresi tokoh proklamator kita. Hmmm, boleh juga sih! Segera Pak Su mengulurkan lembaran uang ke arahnya agar mau diajak pose. Dengan semangat 45 si manusia patung tersebut mengarahkan gaya yang paling okay seperti tangan mengepal seakan meneriakkan kata “Merdeka !” pada ibu dan si Kunyut. Abis itu, cekrek, cekrek, cekrek ! Jadi deh walau beberapa agak ngeblur karena settingan kamera digitalku rada error huft.

Lainnya, paling aku tertarik foto sama si Noni Belanda juga Valak dan Malaikat Maut. Tadinya pengen pilih Noni Belanda yang bedaknya tebel-tebel tuh–maksudnya yang mukanya rada serem, cuma kok ya ibu ga berani hahhahah, yawes, kami pilih aja yang Noni Belandanya dandan biasa-biasa aja trus punya pasangan mirip Charlie Caplin bawa sepeda. Klo Valaknya, uda jangan ditanya….karakternya menjiwai banget dah. Sampe kadang kaget sendiri pas mau dijepret, e tiba-tiba posenya kayak mau menerkam hahahaa….Tapi lumayan kan dapat banyakan, soalnya sayang klo dilewatkan begitu aja. Jarang-jarang bisa nyobain sensasi foto bareng mahluk-mahluk ini, hikhikhik….(doc pribadi Gustyanita Pratiwi)

Advertisements

42 thoughts on “Pengalamanku Jelajah Jakarta dalam Sehari Part 1 : Mengunjungi Masjid Istiqlal, Monas, sampai Kota Tua

  1. Woooow. Keren dan rinci sekaleee mbak πŸ˜€
    Kapan yah bisa ke Monas sama Istiqlal, dari dulu cuma liat foto-fotonya doang. Hohoho semoga dalam waktu bisa pergi kesana supaya bisa pose canteks sama belajar sejarah juga kaya mbak Nita dan keluarga.
    Btw, adeknya mirip Oki Setiana Dewi. πŸ˜€

    Liked by 1 person

    1. Iya ni le, ngebut postingan very2 latepost, abis ini maraton ragunan deh haha

      Ayo kapan kamu ke jakarte?
      Aku aja nyesel knapa eksplore kota tuanya ga gitu detail, pingin balik lagi buat banyak foto parade hantunya hihi
      Wsktu itu camdig pas baterenya mau drop

      Like

  2. Nit, setrong amat sik ngantri & jalan2 ketempat panas gitu hahahah.. aku asli udah bakal meleleh & nangis kali #manja πŸ˜€ waktu itu pun ke kota tua, rasanya udah pengen pulang, trus gendong raya pula… anaknya crancky kalau kepanasan hiks jadi nyari tempat yg ber AC aja πŸ˜€

    Like

  3. wah ini perjalanan yg pernah kami tempuh juga bersama anak-anak, apalagi dari istiqlal menuju ke kota tua mudah banget cukup dengan naik kereta, tanpa ribet gonta ganti angkot. Btw skrg nambah ya kota tua ada hantu-hantunya, hihi

    Liked by 1 person

  4. lunegkaaaap
    aku belum ke kota tua mbak duhhh pengeen
    dulu ke monas esde ngantri sejam berasa laamaaa eh malah 2 jam
    tapi bagus emang
    itu ciloknya kok gede beut

    Like

  5. Waktu saya ke Istiqlal, shaf perempuan tetap di bawah tapi di sebelah kiri. Dikasih pembatas gitu. Mungkin sekarang berubah, ya.

    Saya belum pernah ajak anak-anak ke puncak Monas. Antreannya bikin stress hahaha

    Like

  6. btw itu poto yang awal, narik bendera Mesjid Istiqlal kok maksa ya? wkwkwk

    saya belum pernah ke monas loh padahal ya sering banget lewat, karena kalo kesana perjalanan dinas mulu, jadi kadang ga sempat jalan-jalan T.T

    Like

  7. Hampir 11 thn di jkt, aku baru sekali sholat di istiqlal, dan blm prnh naik monas hahahahaha… Tp ntah kenapa ga penasaran jg nit :p.. Udh cukup lah ngeliat dan baca ceritamu ini aja gmn monas di atasnya :p

    Ihhh, agak kaget td liat orang2 kostum hantunya. Aku baca ini lg sendirian di kantor :p

    Like

  8. Wow … Cerita yang lengkap, membuat sy merasa ikut serta dlm kisah ini … Good job mba, lanjutkan

    Like

  9. liat foto takoyaki jadi inget pas main ke sana sama temen
    jauh2 dari luar kota, eh belinya takoyaki πŸ™‚
    padahal di depan rumahnya juga tiap hari ada yang jual wkwkwkwkwk

    btw, lengkap foto dan narasinya (bukan narsisnya hehehe), cocok buat bikin buku travelling mbak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s