Review Pondok Sangiang Jaya Seafood, Tangerang

Ngomongin seafood, biasanya rada susah ya cari tempat makan yang dari segi dompet oke, namun tetap menyajikan kualitas rasa yang jauh di atas rata-rata. Nah, kebetulan di Tangerang ada nih yang masuk kategori ini. Terlalu mahal engga, terlalu murah juga enggak. Tengah-tengah lah, cuma rasanya bisa kubilang beda dari seafood warung tenda kebanyakan, karena dia mengandalkan cita rasa ‘bumbu khas’. Semacam bumbu keluarga alias resep rahasia gitu #halah. Tapi beneran rasanya maknyus tenan. Nama tempatnya Pondok Sangiang Jaya Seafood dengan basis produk ikan-ikanan, ayam, juga seafood.

1508349440894

Pondok Sangiang Jaya Seafood ini lokasinya agak masuk-masuk ke gang gitu klo dari Jl. Moh. Toha Tangerang. Persisnya, dari pertigaan RS Sari Asih Sangiang ke kiri, 100 meter pertigaan lagi ke kanan, abis itu kira-kira 400 meter lagi di sebelah kanan jalan. Dia ada di depan ruko-ruko handphone en elektronik, kedai martabak, serta RM Padang Fahrizal.

Dikelola oleh satu keluarga yang melibatkan langsung anak-anaknya, Pondok Sangiang Jaya Seafood mengusung konsep masak di tempat. Segala lauk, silakan pilih sendiri sekalian cek ombak apa masih segar ato ga. Khususnya untuk yang ikan-ikanan serta seafood ya karena klo ayam-ayamnya uda diungkep bumbu dan tinggal digoreng atopun dibakar. Untuk ikan misalnya ikan bawal, kakap, maupun gurame. Sedangkan seafood misalnya udang, kerang, maupun cumi.

PhotoGrid_1508568015589

1508348602794

1508348814453

Sebagai ahlinya milih ikan segar, kata Pak Su sih ikan-ikannya segar-segar. Cara ngedeteksinya adalah warna insangnya merah, matanya bening, serta lebih efektifnya lagi klo kalian pegang insangnya dan cium, klo baunya amis berarti dia masih segar, tapi klo ga enak berarti kurang segar.

Waktu Bapak Ibuku maen ke rumah, aku dan Pak Su sepakat ngajakin makan di sini karena bisa kubilang rasanya sesuai selera orang kebanyakan–which is maybe mereka bakal doyan juga. Dan yes, ternyata bener ! Pada suka. Waktu itu kami pilihnya ikan bakar, kepala ayam dan ceker goreng, cumi goreng tepung, tumis kangkung serta es teh manis.

Pertama ikan bakar. Dia ukurannya jumbo-jumbo ya. Dibelah jadi 2, dengan bumbu yang susah dijabarkan pake kata-kata. Maksudnya seperti yang kubilang tadi, semacam kayak ada bumbu rahasia yang bikin remesep sampe ke dalem–maksudnya sampe ke tulang-tulang. Dagingnya juga padet dan mateng. Sampe ke kulit-kulitnya pun (yang biasanya pada ikan aku suka sisain), nah di sini justru aku tandaskan ampe tinggal duri-durinya doang. Bener-bener olahan ikan yang fantastis #maap lebe.

Sambelnya sendiri ada 2 macem yakni sambel kecap cabe rawit bawang merah serta sambel terasi. Dua-duanya endeus banget, meski di lidahku lebih friendly yang sambel kecap pedes. Abis gimananya? Rasa pedes rawit kecampur manisnya kecap juga kretes-kretesnya bawang merah dipadu dengan si ikan menghasilkan kombinasi rasa yang aduhai. Suwer, klo tu cowelan daging diusep-usepin ke sambel kecapnya, rasanya tu kayak nggak kepengen kemesraan ini cepet berakhir #halah.

1508349274060

1508349308536

1508349195780

Kedua, kepala ayam dan ceker goreng. Rasanya juga remesep banget. Kriuk-kriuk en gurih di bagian leher untuk yang bagian kepala. Sementara ceker, telapakannya yang gendut-gendut berlemak itu juga bikin pingin tereak ughlala juga….#kepret.

Sebenernya untuk kepala ini kami sering pesen yang model bakar sih, cuma karena waktu itu ada salah info pendengaran dari si penjual, akhirnya malah digoreng, haha. Ya gapapa sih, baik bakar maupun goreng rasanya sama-sama enak. Tapi, khususon bakar dia spesial bumbunya lebih kerasa. Semacam kayak ikan bakar namun kali ini barangnya diganti ayam.

Selain kepala, standar bagian ayam lainnya yang biasa kami pesan adalah paha maupun dada yang otomatis ukurannya lebih gedean, cuma entah kenapa kami lebih suka bagian kepala dan juga ceker. Makannya cepet sih…

Ketiga, cumi goreng tepung. Yang ini diirisnya model cincin dengan balutan tepung crunchy plus bonus saos tomat sachetan. Tips yang ingin kuberitahu dalam hal mengudsp cumi ini adalah, makanlah dalam keadaan tenang alias jangan grusa-grusu andaikata kalian ga pengen kejebak ama kondisi kenyang duluan. Karena cuminya ini agak berat ya, jadi klo nilep dalam jumlah banyakan, bisa dipastikan akan sangat menguasai kapasitas perut.

1508349384659

1508349415221

1508349058962

Terakhir, tumis kangkung. Jujur untuk menu yang satu ini rasanya juara ! Warnanya beneran ijo fresh, dengan tekstur lemes, gurih, pedes bercampur jadi satu tanpa mengurangi efek kesegarannya. Apalagi ketambahan ada esense terasi ataupun bumbu kedelainya yang bikin si kangkung endeus dari bagian daun sampai ke tangkai-tangkai. Jadi lagi-lagi aku takjub, karena yaitu tadi kayaknya ada semacam bumbu rahasia yang bikin dia beda dengan tumis kangkung di kede seafood lainnya.

Apalagi jika dibandingin ama masakanku. Aduh, helaaaw masakanku mah satu kali ngosek bisa beda-beda rasa kali yes, makanya sering diremehin ga bakat dagang makanan hahaha. Klo tumis kangkungku itu kan sering menggelap tuh andaikan ga cepet-cepet dimakan setelah mentas dari wajan. Nah masakan di Pondok Sangiang Jaya Seafood ini enggak. Kayak awet amat warna ijo segernya. Aslik ! Beneran maknyus!

Cuma sayangnya seporsinya agak dikit ya menurutku. Jadi biar kerasa puas dan sesuai ama nasi ya kami pesennya jadi 1,5 porsi. Soalnya gimana ya, klo nasinya masi banyak, sementara kangkungnya uda abis rasanya tu ada yang kurang gitu…. Seperti ada yang mengganjal #lebe jilid 2.

1508349343565

This slideshow requires JavaScript.

Minumannya, ga usah dibahas detil lah ya, karena standar kok haha…yang jelas rasanya seger baik itu ysng es teh manis, es jeruk, maupun lainnya. Overall, kami selalu puas dengan penyajian warung makan seafood ini, meski ada kenaikan harga sih sesuai dengan laju inflasi tahunan untuk beberapa menunya (Gustyanita Pratiwi doc).

 

20 thoughts on “Review Pondok Sangiang Jaya Seafood, Tangerang”

  1. sifud selalu jadi kelemahankuu 😦 anak pantai banget ga sih
    nyit update an lau kenceng banget dah hosh hosh
    sabar ya bw anku nyicil

    Like

  2. Enaak! Memang makan ikan yang masih fresh segar itu beda banget ya dengan ikan yg sudah nggak fresh. Makan ikan gini dengan nasi anget bisa nambah2 terus hahaha. Kalo kepala ayam dan ceker goreng aku nggak suka, anehnya ceker yang dibikin seperti kerupuk itu aku sukaa 😀

    Like

  3. ga kuat liat itu ikan bakar T.T minta dimamam dah hahahah

    saran mbak, kalau untuk harga dan enak dikasih rate 1 – 100 gitu mbak biar enak pembaca membayangkannya dongg

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s