Pecak Gabus Sumur Pacing Tangerang

Kalau ditanya lokasi kuliner di Tangerang yang sekiranya recomended, kadang aku mikir lama dulu, lalu ngebatin di mana aja ya? Soalnya, akupun masih pendatang baru, jadi baru tau spot-spotnya beberapa. Salah satunya adalah resto keluarga berbasis ikan-ikanan yaitu Pecak Gabus Sumur Pacing. Lokasinya ada di Jl. Aria Santika, Sumur Pacing, Karawaci, Kota Tangerang.

Resto ini kalau dari jalan gede gak gitu keliatan. Masuknya lebih ke arah jalan tikus. Jadi lumayan tersembunyi ya. Udah gitu dia juga ada gerbangnya dulu yang mana sebelum mencapai area pintu masuk, pengunjung terlebih dahulu harus melewati serangkaian tanah kosong yang kita-kira berukuran 1 hektar. Booookk luas banget ye kan ??? Yup lapangan ini emang sengaja dibiarkan apa adanya dimana beberapa ternak seperti ayam dan bebek dibiarkan bebas merumput untuk menciptakan nuansa pedesaan yang terkesan alami. Pokoknya serba hijau dan adem gitu karena banyak  rumpun bambu yang ditanam di situ selain juga terdengar suara gemericik air yang berasal dari kolam sebelum tangga atau undak-undakan menuju pintu masuk. Jadi, kayak kejutan gitu deh…dipikirnya dari luar kecil, ternyata setelah masuk ke dalem lapaaaaang banget.

1521871453571

PhotoGrid_1521880688800

Setelah kuamat-amati, konsep arsitektur Restoran Pecak Gabus ini lebih ke gaya betawi klasik ya, dimana bangunannya mengingatkanku pada rumah Babe dan Maknyak di Sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”. Mulai dari halaman yang luas, kemudian atap yang berasal dari anyaman daun kering, pendoponya yang kokoh, meja kursi yang berbahan dasar kayu, serta cat hijau tua dengan jendela yang bingkainya dibiarkan terbuka hingga AC alami alias semilir angin bisa menyusup ke dalam memberikan kesan adem yang neuyyycurel. Pada beberapa sudut juga dipajang foto-foto pemilik yang diantaranya diapit oleh orang-orang penting karena faktor prestasi dari sajian kulinernya.

Sesuai rekomendasi Ndoro Kakung tercinta, alias Pak Su…andaikata mampir kemari, jangan pernah lewatkan menu spesialnya yaitu pecak gabus. Soalnya, beliau dan rekan-rekan kerja juga sering mampir kemari buat makan siang sambil ngobrolin masalah kerjaan. Ya ga terasa berat gitu la wong ngobrolnya sambil menikmati kelembutan daging pecak gabus yang dipadu dengan bumbu rempah, kemangi, tomat hijau, serta belimbing wuluh. Jozz gandos mantab jaya, mengingat gabusnya sendiri yang merupakan ikan air tawar penghuni rawa-rawa, sawah, serta sungai ini memang pada era modern seperti sekarang agak susah dicari. Hamdalahnya sih, pas nemu ya pas diracik oleh resto yang udah kesohor namanya seantero Tangerang. Lebih detilnya sih, kata beliau ikannya ga kerasa bau tanah ataupun bau lumpur. Uda gitu amisnya juga lenyap akibat perpaduan dari bumbu asli Indonesia macam daun lengkuas, asam jawa, salam, kunyit, jeruk, jahe, lengkuas, bawang serta cabai bakar. Jadi sensasi pedasnya yang nyegrak bin setrong itu terasa sangat haaawt buat dicolek dan dicolek lagi bareng nasi putih panas sampe tersisa tulang-tulangnya.

1521871645824

1521870817721

1521871672436

1521871624584

PhotoGrid_1521874325936

Namun demikian, pada saat membawaku ke sini (kurang lebih sekitar tahun 2015–pas anget-angetnya masih manten baru hahaha), beliau ingin coba menu lainnya selain pecak. Karena kan ceritanya lagi cek ombak nih– apakah menu lain rasanya juga sedahsyat pecak?

Adalah menu bernama Gecok Gabus yang  akhirnya kami pesan karena ternyata rasanya tak kalah dari sang primadona, pecak. Gecok ini disajikan dalam  wadah gerabah berbahan dasar tanah liat yang bentuknya menyerupai mangkuk raksasa. Di bawah mangkuk tersebut terdapat penopang yang menyerupai tungku yang menjadikan sajian gecok selalu dalam keadaan panas. Rasanya sendiri bagiku agak menyerupai gulai ikan ya. Kuahnya bersantan, rasanya agak asam pedas karena salah satu bahan baku bumbunya berasal dari potongan belimbing wuluh. Segeeeeer walau tentu saja menurutku porsinya gede banget.

Pesanan lainnya (buat jaga-jaga karena aku sebenarnya ga gitu suka ikan) yaitu cumi goreng telur asin, cah kangkung hotplate, teh poci dengan gula batu, serta es jeruk manis. Semuanya diproses lumayan cepet sehingga langsung bisa mengobati rasa lapar ini yang sedari pagi belom sempet sarapan.

1521871731872

1521871295054

1521870842603

1521871427410

1521871096842

1521871191140

1521871232450

1521871767556

1521871407617

PhotoGrid_1521882275882

Agak kaget juga pas pelayan datang dan membawa pesanan kami itu karena si wadah cah kangkungnya memang disetting mengepulkan asap. Jadi sebelum makan kayak ada atraksi macem chef di serial komik Cooking Master Boy hahaha…
Cah kangkungnya enaaak. Crunchy dan yang terpenting adalah ga sampe overcook hingga menjadikannya berwarna gelap. Pas lah. Soalnya jujur aja aku tu kalo masak kangkung di rumah selalu lebih cepet gelap ga sehijau royo-royo macem kangkung di resto-resto. Agak heran memang ahahhaha…. Oh ya, porsi cah kangkung di sini juga agak besar ya dan rasanya hooot (fanaaas) karena memang diletakkan di atas hot plate.
Sementara itu cumi telur asinnya bagiku terasa agak mengenyangkan sih, meski kalau ga langsung dihabisin satu kali jalan itu ya sebenernya guriiih berbumbu.

Nah yang paling enak itu ya minumannya. Teh poci dengan gula batu plus es jeruk manis. Secara, wadah tehnya sendiri sengaja menggunakan cerek seng model klasik yang warnanya ijo ada totol-totolnya. Persis kayak model cereknya Babe Sabeni kan ahahiii. Uda gitu yang paling nikmeeeh ya manisnya gula batu bercampur teh poci anget. Rasanya ga ada yang ngalahin kesegarannya apalagi diminum sambil menikmati semilir angin dan hehijauan di kanan kiri. Duh..,tiba-tiba jadi ngantuk ahahhaha…Sementara itu, es jeruknya Pak Su juga seger banget. Porsinya pas, sesuai untuk mengobati dahaga setelah menandaskan 1 porsi gede gecok gabus juga cah kangkung. Untuk cuminya, ada sisa sedikit sih yang pada akhirnya minta dibungkuskan untuk dibawa pulang. Kadung wareg je..tapi hepi….(gustyanita pratiwi doc)

“Pecak Gabus Resto”

Jl. Aria Santika, Sumur Pacing, Karawaci, Kota Tangerang, Banten 15113

Jam buka : 

Senin 10.00–21.45

Selasa 10.00–21.45

Rabu 10.00–21.45

Kamis 10.00–21.45

Jumat 10.00–21.45

Sabtu 10.00–21.45

Minggu 10.00–21.45

Range harga :

ratusan ribu untuk 2 orang

Advertisements

6 thoughts on “Pecak Gabus Sumur Pacing Tangerang”

  1. luas banget y mb restonya mancap dan ngomongin gabus kayaknya ku doyan yg gabus asin belum pernah seumur gini makan gabus yg dipecak heehee iya sih klo ikan tawar suka bau tanah makanya klo aku jarang masak ikan tawar akang suami juga ga doyan

    Liked by 1 person

  2. Perasaan aku prnh komen di sini, tp kok ga muncul yaaa -_-

    Pecak gabus aku jg doyaaaan nit. Duh sayang aja ini jauh di tangerang. Kalo di jkt bakal aku datangin deh. So far pecak gabus fav bikinan pembantuku yg orang betawi. Pernah nyoba di restoran betawi di jajarta, enak sih, tp ga terlalu pedes. Dan ikannya agak susah dimakan akibat duri :p

    Liked by 1 person

  3. Aku kyknya pernah komen di sini, tp kok ga ada yaaa.. Aku jg suka banget ama pecak gabus nit. Ini sayang aja jauh banget di tangerang. Kalo jkt mah aku datangin. Di jkt sendiri susah nyari menu ini. Rata2 ada di jakarta selatan, yg mana jauh juga.. Aku prnh cobain enak, itu jg dibikinin ama pembantuku yg org betawi asli :p

    Liked by 1 person

  4. Wow itu kangkung nya masih ngepul2 ditaruh di hotplate. Nikmat bener ini kayaknya pecak gabus nya. Sepertinya kalo mau nambah berat badan, mampir aja ke sini ya hahaha.
    Btw sama dengan Fanny, sepertinya aku udah komen di postingan ini, kok nggak ada ya? 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s