Umaeh Inyong, Kuliner Purwokerto

Setelah lega karena berhasil membooking hotel di Java the Heritage, Purwokerto, ba’da magrib, perut kami mulai terasa keroncongan. Maklum saja, perjalanan panjang dalam rangka mudik balik ini memang biasa dihantui oleh rasa lapar yang teramat sangat akibat malas mencari tempat makan on the spot yang belum tentu enaknya. Jadi, mumpung udah dapat hotelnya nih, yaudah, malamnya kami putuskan untuk berwisata kuliner saja di dekat-dekat hotel.

1566569576816

Lalu kemanakah kaki ini akan melangkah ? Suami bilang sih kenapa kami ga mencoba saja makan di restoran ‘Umaeh Inyong’ yang berada tak jauh dari situ ? Sebelumnya memang beliau sudah searching-searching terlebih dahulu mengenai wisata kuliner apa yang sekiranya enak di Purwokerto ? Lalu ketemulah kami dengan review Umaeh Inyong yang mewakili tempat makan ala-ala Purwokerto Banyumasan. Aku sendiri tadinya ga ada bayangan sama sekali tentang konsep tempat makannya kayak apa. Tapi berhubung suami cukup antusias dan berani menjamin bahwa makanan di sana enak, yaudah aku ngikut aja. Katanya sih tempatnya cakep. Terus bisa banget buat foto-foto. Kan lumayan buat nambah-nambah konten #eaaaaa para pengabdi konten mana suaranyaaaaa ?

Karena kupikir juga perut udah lapar banget, yaudahlahya aku nurut aja mau dibawa kemana hubungan kitaaaa. Yang penting rasanya enak, harganya murah, hahhahahaha….#teteup ya Boooook, ngirit is my way.

Selepas magrib, kami meluncur ke Umaeh Inyong yang berada tak jauh dari lokasi hotel Java The Heritage, tempat dimana kami menginap. Alamatnya di Jl. Jend. A. Yani 47, Purwokerto Utara. Ancer-ancernya : sebelum kampus IAIN/STAIN Purwokerto. Atau kalau dari arah alun-alun kota Purwokerto, silakan masuk ke jalan masjid, lurus terus ke utara, baru habis itu sampai jalan Jend. A. Yani, nah dia ada di kiri jalan sebelum kampus IAIN Purwokerto.

Bangunannya itu berupa rumah tua peninggalan Belanda. Warnanya putih dan di depannya terdapat plang bertuliskan gede-gede yang berbunyi : Umaeh Inyong, yang merangkap sebagai sentra oleh-oleh Purwokerto-Mbanyumasan. Berdasarkan informasi yang aku dapat, dia buka setiap hari dari jam 09.00 – 22.00 WIB, namun khusus untuk malam minggu bisa sampai jam 23.00 WIB.

PhotoGrid_1566573787707

1566600963559

PhotoGrid_1566573866990

1566573568279

PhotoGrid_1566573963850

1566573171825

1566571349272

1566573239804

1566571486626

1566571305209

1566571464499

PhotoGrid_1566574118273

1566568696905

PhotoGrid_1566574193468

PhotoGrid_1566574242599

1566571438090

PhotoGrid_1566574047130

1566571110382

1566570456420

1566570392936

1566597049591

PhotoGrid_1566574015561

1566570214965

1566570480278

1566568571996

Dari luar, area parkir disediakan d4engan cukup baik karena ukurannya yang super luas sehingga mampu menampung banyak kendaraan besar termasuk juga bus pariwisata.

Umaeh Inyong ini memiliki desain klasik campur tradisional yang bangunannya mempertahankan sisi keasliannya. Seperti yang sudah aku sebutkan di awal, dia merupakan rumah bergaya Belanda dengan ornamen daun jendela yang besar-besar disertai berbagai perabot yang Njawani banget.

Selanjutnya kami masuk melalui sisi selatan (kiri) yang menghubungkan kami dengan sebuah lorong bernama Selasar Cipendok. Selasar Cipendok ini ditandai dengan sepasang patung perempuan dan laki-laki berbusana Jawa yang menyambut dengan senyum sumringah dan tangan menyiratkan ucapan ‘Selamat Datang’. Baru setelahnya sampai di lorong yang kanan kirinya dihiasi kolam ikan sementara langit-langitnya terpajang lampu berkap bambu. Mentok sampai ke ujung, ada sebuah area yang bisa digunakan sembari lesehan dengan pernak-pernik yang sekali lagi, Njawani banget.

Untuk bisa memasuki tempat yang bisa digunakan untuk makan, maka kami harus melalui area kasir yang bersisihan dengan pusat oleh-oleh Banyumas yang bertagline Olih-Olih Inyong. Oh ya , inyong itu dalam bahasa jawa berarti aku atau saya. Sedangkan umah berarti rumah. Sementara olih-olih adalah oleh-oleh atau cendera mata. Oleh-olehnya ini ada yang berupa Soklat Inyong, Keik Soklat Kayu Manis, Bandeng Pepes Inyong, Galeri Batik, dan alat permainan serta ornamen Mbanyumasan.

Selain itu, beberapa space juga dihiasi dengan berbagai macam benda klasik seperti mesin ketik tua, cerek enamel bergaya khas Jawa dengan sentuhan hijau atau biru lorek-lorek, juga beberapa lodong (toples) dan barang pecah belah bergaya vintage.

Mulai memasuki area tempat makannya, terdapat tempat duduk yang didominasi oleh kayu klasik dan juga resban (kursi kayu panjang) atau kursi tradisional ala Banyumas.

Ada pula yang bentuknya pondokan lesehan yang masing-masing berada di sisi taman sebelum pendopo yang konon katanya bisa digunakan untuk berbagai macam acara. Misalnya, silaturahmi keluarga, meeting kantor atau instansi, dan pernikahan.

Di sini juga ada program yang dikhususkan untuk anak-anak seperti program ayo Njoged yang mengajarkan tari tradisional Banyumas juga choco class tentang bagaimana cara membuat coklat. Waktu kami makan di situ, kebetulan sedang ada semacam acara silaturahmi keluarga dimana anak-anaknya diperbolehkan mengeksplore taman dan juga mainan yang telah disediakan seperti bakiak dan juga dakon.

Nah, kami sendiri lebih memilih tempat duduk lesehan agar lebih leluasa makan sambil mengawasi bayi-bayi kami.

Adapun menu yang disediakan oleh Umaeh Inyong berupa menu-menu tradisional, baik yang berat maupun ringan. Contohnya, Segane Iyong, Tenongan Rika, Jangane Yu Bawor, Lawuh Medang, Medangan Kang Bawor, Panganan Liyane, Segeran Yu Bawor, Es Peresan Buaeh Mbekayu Sinten (jus) dll. Sungguh nama-nama menunya sangat unik ya apalagi kalau diucapkan dalam logat ngapak,… pasti akan terdengar lebih mantul lagi, hihihi.

1566569200101

PhotoGrid_1566573834964

1566570554002

1566569829828

1566568592385

1566571232645

1566571168289

1566571141078

1566570963468

1566571043153

1566571071964

1566570933937

1566569539883

1566569408399

1566601080112

1566569443962

1566569316131

1566574814854

1566570072733

1566569806629

1566570046562

Kami sendiri kala itu memesan menu yang cukup umum yakni nasi goreng. Entah kenapa malam-malam rasanya paling nikmat menyantap nasi goreng. Aku memilih nasi goreng semrawut, sedangkan Suami memilih nasi goreng buto ijo. Entah kenapa namanya begitu, yang jelas akan kami pahami setelah piring sampai di atas meja. Menu lainnya berupa kepala ayam goreng dan juga ikan wader goreng yang tak lupa kami pesan sebagai alternatif untuk makan anak wedok yang kadang rada pilih-pilih lauknya. Sementara minumannya kami pilih jus alpukat, es duren srikandi, wedang ronde dan juga es teh tawar #banyak amat Bu, hahaaa…iya nih biasaaa yang pesennya nrenteng begini adalah hasil request suamik saya ya, ya eke mah manut aja. Katanya sayang kalau cuma makan nasgor uda jauh-jauh nyampe Purwokerto. Jadi sekalian pesan yang spesialnya juga dong. Haha, oke baiklah Pak Suami, ntar klo kewaregen jangan dilimpahin ke aku semua ya makanannya hahaha…

Oke langsung aja review pesanan kami kayak gimana…

Cekidotz…

Pertama nasi goreng pesananku yakni Nasi Goreng Semrawut. Nasi goreng ini terdiri dari nasi, mie jawa, suiran ayam goreng, irisan telor dadar, acar timun wortel, potongan timun, sawi dan juga tomat. Semua ornamennya ludes kulahap tanpa sisa. Kenapa begitu ? Karena rasanya endol banget. Wuinukkkk. Bulir nasinya panjang-panjang dan rasanya itu ada sensasi sangit-sangitnya ala-ala dimasak pakai tungku yang biasanya ada di pawon khas jawa. Sedikit rasa sangit itu menurutku menambah cita rasa yang jauh lebih nikmat ketimbang nasi goreng tek-tek biasa. Serius rasanya tuh di kecapan pertama bener-bener susah dilupakan sehingga untuk kecapan berikutnya benar-benar membuat ketagihan. Gimana ya ngejelasinnya. Gurihnya itu pas. Ga kepedasan ataupun over hambar kayak yang biasa aku temui di menu nasgor resto pada umumnya yang khusus bukan nasi goreng. Jadi ini tuh beneran pas bianget, ga pake boongan. Cocok ama lidah saya, haha….

Nah, mengenai istilah semrawutnya itu, yang aku asumsikan sih karena berasal dari campuran mie jawanya. Jadi mawut-mawut gitu lah penampakannya. Banyak terdapat serabut mie kuning di sana-sini. Tapi biarpun begitu, rasanya tuh ga ada semrawut-semrawutnya sama sekali. Dengan kata lain enakkkkk ! Udah gitu yang bikin hepi lagi adalah irisan telor dadarnya yang banyaaak bin melimpah alias ga medit. Malah hampir mengisi setengah piringnya. Love banget deh !

1566570015872

1566569829828

1566569959140

1566569285439

1566570100535

1566569935538

PhotoGrid_1566574286784

1566571326291

1566570100535

1566569576816

1566569356066

1566568549229

1566569876227

Kedua, nasi goreng pesanan suami yaitu nasi goreng buto ijo. Dinamakan begitu karena ternyata nasinya berwarna hijau setelah diberi sensasi cabe hijau. Nasinya wangi banget. Bulirnya juga panjang-panjang. Memang warnanya lebih pucat dari nasi gorengku yang kecokelatan, tapi kata suami sih rasanya enak walau beliau pesen bukan yang galak alias pedes. Porsinya juga fulltank banget dan perintilannya juga komplit. Ada irisan telor dadar, suiran ayam, acar, irisan tomat dan juga timun. Bedanya dengan punyaku, rasanya lebih berat dan cukup ngenyangin.

Ketiga, kepala ayam goreng yang kalau di buku menu dinamakan endas pitik. Sepiring terdiri dari 5 potong kepala. Digorengnya cukup garing, walau kata suami lumayan oily, cuma ga tau kenapa aku suka banget ama rasanya. Gurih asinnya meresep sempurna, apalagi bagian gulu alias lehernya yang full kulit. Itu tuh maknyus bener sampai aku bingung mau nyendokin nasi gorengku duluan apa ikut nyemilin kepalanya ahahah #galau.

Keempat, ikan wader goreng. Ikan ini berupa ikan kecil-kecil yang digoreng tepung dan terasa renyah waktu dipuluk pakai nasi putih. Ya kami pesan nasi putih juga buat alternatif maemnya putriku yang lagi getol aku kasih ikan-ikanan. Tentunya setelah bonus sambalnya dipinggirkan ya.

Kelima, es duren srikandi. Porsinya juga geday amat, ya Alloh hahaha. Tadinya memang penasaran karena ada durennya yang which is selalu digoda suami buat pesen daripada gw mati penasaran, hahhahahha. Dan ketika tu mangkok tiba di atas meja, yang ada hanya bisa geleng-geleng kepala, saking bingungnya antara udah lumayan wareg tapi juga pengen nyobain durennya. Galaaaao boook. Walhasil durennya kami makan sama-sama karena manisnya itu otomatis bikin kenyang banget kan. Rasanya sendiri, tentu aja seger ya. Potongan durennya juga full daging, di samping perintilan lainnya juga ada pisang plus nangka yang disiram sirop framboze warna merah jambu dan kental manis. Aromanya harum pisan euy. Durennya sengaja dimakan terakhir karena itulah jackpotnya hahahhaha…

Keenam, wedang ronde. Semangkuk terdiri dari wedang jahe, irisan kolang-kaling, empat buah indil-indil berwarna merah dan juga hijau, serta kacang goreng. Rasanya segar menghangatkan tenggorokan.

Sementara itu jus alpukatnya untuk jatah putriku yang teksturnya kental segelas jumbo. Gerrrrr banget lur, seger !

Dari segi harga, aku bilang cukup murah ya. Ibaratnya kayak harga mahasiswa gitu lah. Mungkin karena Purwokertonya deketan ama Unsoed kali ya jadi rata-rata harga makanannya murah meriah. Padahal ya tempatnya jauh dari kata ecek-ecek. Dengan kata lain berkelas banget. Terutama karena mengusung tema vintage dan budaya jawanya yang terkesan ningrati.

1566569539883

1566569806629

Kesan-kesan Makan di Umaeh Inyong :

Tempatnya unik banget
Bangunannya serba vintage, khas gaya kolonial
Kental nuansa jawa, terutama Banyumasan
Banyak spot instagrammable
Ada taman yang terkesan hijau dan banyak tanaman hiasnya
Tempat parkirnya luas
Ada pusat oleh-oleh dan souvenir khas Banyumas dan Purwokerto
Menunya banyak dan enak-enak
Harga makanannya murah meriah
Porsi makanannya besar-besar
Ada area yang bisa digunakan untuk pertemuan, gathering, reuni, sampai nikahan
Ada permainan tradisional untuk anak-anak juga

Secara keseluruhan, aku suka makan di sini. Rasa enak. Harga juga cucok. Pas lah buat balik lagi suatu saat nanti andaikata ada kesempatan mampir Purwokerto. Untuk nilainya sendiri, antara range 1-10, aku kasih 9,5. Becoz everything just parfait….halah haha… (ditulis oleh Gustyanita Pratiwi dari http://www.gustyanita.wordpress.com)

Umaeh Inyong, Purwokerto
Jl. A. Yani No.47, Karanganjing, Kedungwuluh, Kec. Purwokerto Bar., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53115
Jam buka : setiap hari dari jam 09.00 – 22.00 WIB, namun khusus untuk malam minggu bisa sampai sampai jam 23.00 WIB.

One thought on “Umaeh Inyong, Kuliner Purwokerto”

  1. Tempatnya model rumah-rumah jadul ya, tapi unik, bagus juga buat foto-foto 🙂
    Nasi goreng yang dicampur mie, kalo ditempatku namanya nasi goreng mawut, aku sukaaa!
    Kalau kepala ayam, leher, ceker aku nggak begitu suka, geli ngeliatnya hahaha. Kalau kakakku sukanya kepala ikan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s